Rifainstitute.com – Sebuah kisah inspiratif datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada wisuda Rabu (25/2/2026) lalu. Zufa Pasha Sabina berhasil meraih prestasi gemilang yang mencengangkan banyak pihak. Ia dinobatkan sebagai satu-satunya wisudawan dengan IPK sempurna 4.00.
Pencapaian luar biasa ini diraih Zufa di antara 1.201 lulusan sarjana lainnya. Ia juga menyelesaikan studi S1 Ilmu Keperawatan dalam waktu yang relatif singkat. Hanya 3 tahun 6 bulan, jauh di bawah rata-rata waktu studi.
Bagaimana Zufa mengukir sejarah akademik ini di tengah kesibukan kuliahnya? Mari kita telusuri perjalanan dan kiat suksesnya. Ini adalah sebuah kisah tentang dedikasi dan kegigihan.
Studi Kilat di Tengah Kesibukan Padat
Zufa menyelesaikan Pendidikan S1 Ilmu Keperawatan UGM dalam 3 tahun 6 bulan. Capaian ini lebih cepat dari rata-rata mahasiswa yang biasanya 4 tahun 2 bulan. Ia mengaku sangat senang dan tidak menyangka akan hal ini.
Selama kuliah, jadwal Zufa sangat padat. Setiap bulan ada ujian, tugas kuliah menumpuk, dan kegiatan non-akademik juga banyak. Bahkan ia sempat menjalani magang di luar kampus.
“Awalnya pun agak pesimis untuk mendapat nilai segitu,” kata Zufa. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berhasil membuktikan kemampuannya. Ini adalah buah dari kerja kerasnya.
Ilmu Keperawatan Pilihan Hati Penuh Dampak
Zufa berasal dari Kebumen dan memilih Ilmu Keperawatan UGM bukan tanpa alasan. Baginya, jurusan ini memiliki potensi dampak besar bagi masyarakat. Ia juga percaya ilmu ini akan terus relevan dan berkembang.
Saat ini, Zufa tengah melanjutkan pendidikan profesi ners. Meskipun profesi perawat sering dianggap berat, ia menemukan kebahagiaan dalam pilihannya. Pengalaman magang di PSC 119 YES memperkuat keyakinannya.
“Banyak banget pelajaran yang dapat diambil di situ tentang kedaruratan,” imbuhnya. Terjun langsung ke lapangan di pre-hospital memberikan perspektif berharga. Ia semakin yakin dengan jalur karier yang dipilihnya.
Ibu Sebagai Motivator Utama
Kesuksesan Zufa tak lepas dari perjuangan keras dan dukungan penuh. Di tengah kelelahan karena jadwal padat, ia selalu mencari dukungan dari sang ibu. Doa dan nasihat ibu menjadi penyemangat terbesarnya.
Setiap malam, Zufa rutin menelepon ibunya. Mendengar suara ibu memberinya kekuatan dan semangat untuk menghadapi perkuliahan esok hari. “Senang rasanya kalau sudah mendengar suaranya,” kenangnya.
Hubungan erat dengan sang ibu menjadi fondasi mentalnya. Ini membuktikan pentingnya dukungan keluarga dalam meraih impian. Kehadiran ibu adalah sumber motivasi tak terbatas.
Kiat Meraih IPK Sempurna
Ditanya soal tips meraih IPK sempurna, Zufa menekankan pentingnya pola akademik. Ia tidak menargetkan nilai sempurna sejak awal. Namun, ia memahami pola perkuliahannya dengan baik.
“Ketika sudah di pertengahan, kelihatan polanya,” jelas Zufa. Kuncinya adalah menjaga agar nilai tidak turun dan tetap stabil. Prioritaskan kegiatan penting meski rasa malas kadang datang.
Ia menyarankan mahasiswa untuk menjaga keseimbangan antara belajar dan istirahat. Mulailah menyicil materi dan tugas jauh sebelum batas waktu. “Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” katanya.
Pesan Zufa adalah untuk selalu berusaha maksimal. “Do your best you can, lakukan semaksimal mungkin,” tegasnya. Ruang untuk berjuang maksimal selalu ada dan akan membuahkan hasil terbaik.
Ikuti terus berita terbaru seputar publikasi ilmiah hanya di Rifainstitute.com








Leave a Comment