Dari Skripsi Jadi Peneliti Terbaik? Kisah Inspiratif Rosdiana di 2025

Rosdiana Anjelina membuktikan, skripsi pun bisa berbuah manis! Dari tugas akhir kuliah, ia justru dinobatkan sebagai Peneliti Terbaik dalam Program Indofood Riset Nugraha (IRN) 2024-2025. Kisahnya ini jadi bukti nyata, riset yang fokus mencari solusi masalah sehari-hari bisa berdampak besar. Mahasiswi Rekayasa Pertanian ITB ini dinilai berhasil menciptakan sistem pertanian berkelanjutan yang efisien, produktif, dan tentunya ramah lingkungan. Penelitian mendalamnya yang sangat aplikatif jadi kunci suksesnya meraih penghargaan bergengsi ini.

Awal Mula: Terpikat Program IRN

Rosdiana bercerita, ia pertama kali tahu soal program IRN dari publikasi tahunan yang rutin disebar di kampusnya. Program ini langsung menarik perhatiannya karena menekankan riset yang bisa langsung diterapkan, memberikan solusi nyata untuk masalah di masyarakat, terutama di sektor pertanian. “Saya melihat IRN sebagai wadah yang pas untuk mengembangkan ide-ide inovatif di bidang pertanian dan memberi kontribusi positif bagi petani Indonesia,” ungkap Rosdiana. Dukungan penuh dari dosen pembimbingnya, Sartika Indah Amalia Sudiarto, semakin memantapkan langkahnya untuk ikut program ini. Sartika, seorang pakar di bidang pertanian berkelanjutan, memberikan arahan dan bimbingan berharga selama proses penelitian.

Fokus Riset: Pertanian Berkelanjutan ala “Three Sisters”

Penelitian Rosdiana ini fokus pada tiga masalah utama yang dihadapi pertanian Indonesia saat ini: praktik monokultur yang berulang, ketergantungan pada pupuk kimia, dan penurunan produktivitas pangan. Untuk mengatasi itu, ia mengadopsi dan mengembangkan sistem “Three Sisters,” metode budidaya tradisional yang menanam tiga tanaman sekaligus: jagung, kacang panjang, dan labu kuning. Sistem ini dipilih karena punya potensi besar meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi penggunaan pupuk kimia, dan membuat pertanian lebih berkelanjutan.

“Sistem Three Sisters ini solusi cerdas dan berkelanjutan untuk berbagai masalah pertanian di Indonesia,” jelas Rosdiana. Ia menambahkan, sistem ini sudah terbukti efektif di banyak negara, termasuk Amerika Latin dan Afrika.

Baca Juga:  UIR Raih Puncak Prestasi: Transformasi Menuju Kampus Riset Berkelas Dunia

Metode Riset: Paduan Tradisi dan Pupuk Organik

Dalam risetnya, Rosdiana menggabungkan sistem “Three Sisters” dengan penggunaan pupuk vermikompos, pupuk organik hasil dekomposisi oleh cacing tanah. Tujuannya? Menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Jagung jadi penopang untuk kacang panjang, kacang panjang menyuplai nitrogen ke tanah, dan labu kuning menutupi tanah agar lembap dan menekan pertumbuhan gulma. Pupuk vermikompos sendiri kaya nutrisi dan mikroorganisme yang baik untuk pertumbuhan tanaman.

“Penggunaan pupuk vermikompos bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan meningkatkan kualitas tanah,” ujar Rosdiana. Ia juga menjelaskan, pupuk vermikompos bisa diproduksi sendiri oleh petani, jadi bisa memangkas biaya produksi.

Tantangan dan Temuan di Lapangan

Riset Rosdiana ini berlangsung selama enam bulan di lahan pendidikan ITB Kampus Jatinangor. Prosesnya meliputi persiapan lahan, persemaian benih, penanaman bertahap, sampai perawatan intensif menggunakan pestisida nabati dan pupuk organik. Selama penelitian, Rosdiana menghadapi berbagai tantangan yang menguji ketekunan dan kemampuannya.

Masa Penanaman: Menyesuaikan Diri dengan Karakter Tanaman

Salah satu tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan karakter tumbuh ketiga tanaman yang berbeda dalam satu lahan. Jagung tumbuh tegak, kacang panjang merambat, dan labu kuning menjalar di permukaan tanah. “Saya harus mencari cara agar ketiga tanaman ini bisa tumbuh optimal tanpa saling menghambat,” ungkap Rosdiana. Ia lalu melakukan berbagai percobaan untuk menentukan jarak tanam yang tepat dan teknik perawatan yang pas.

Keseimbangan Alam: Kunci Sukses Sistem

Namun, dari semua tantangan itu, Rosdiana justru menemukan temuan berharga. Ia menyadari, kunci sukses sistem “Three Sisters” bukan hanya soal banyaknya input, tapi keseimbangan ekologi yang tercipta di antara ketiga tanaman itu. “Saya belajar bahwa alam punya mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan,” ujarnya.

Baca Juga:  Rafflesia hasseltii Terungkap, Apa Kata Peneliti Soal Penemuan Ini?

Potensi Penerapan untuk Petani Kecil

Rosdiana yakin, sistem “Three Sisters” punya potensi besar membantu petani kecil di Indonesia yang punya keterbatasan lahan dan sumber daya. Sistem ini tidak butuh investasi besar dan mudah diterapkan oleh petani. Selain itu, sistem ini juga tahan terhadap perubahan iklim, jadi bisa memberi kepastian hasil panen.

“Saya berharap sistem Three Sisters bisa jadi solusi bagi petani kecil di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan mereka,” kata Rosdiana. Ia berencana terus mengembangkan sistem ini dan menyebarkannya ke petani di seluruh Indonesia.

Dari Skripsi Hingga Penghargaan

Penelitian yang awalnya cuma tugas akhir ini akhirnya mengantarkan Rosdiana Anjelina meraih penghargaan Peneliti Terbaik dalam Program Indofood Riset Nugraha (IRN) tahun ini. Penghargaan ini adalah pengakuan atas kerja keras dan dedikasinya dalam mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan yang inovatif dan aplikatif. “Saya sangat bersyukur dan bangga atas penghargaan ini,” ujar Rosdiana. “Saya berharap penelitian saya bisa memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya bagi petani di Indonesia.”

Penghargaan tersebut diberikan pada Kamis (16/10/2025) dalam acara penandatanganan kontrak kerja sama dan penganugerahan penghargaan peneliti terbaik yang diselenggarakan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk, di Jakarta. Ke depannya, Rosdiana berencana melanjutkan penelitiannya dan mengembangkan sistem “Three Sisters” lebih jauh. Ia juga berharap bisa bekerja sama dengan pemerintah dan berbagai pihak terkait untuk menerapkan sistem ini di berbagai daerah di Indonesia. “Ini adalah langkah strategis untuk masa depan pertanian Indonesia,” ujar Sartika Indah Amalia Sudiarto, dosen pembimbing Rosdiana di ITB. “Kami optimis sistem ini bisa berkontribusi signifikan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.”

Related Post

No comments

Leave a Comment