Rifainstitute.com – Tradisi Ramadan di Indonesia selalu menyajikan fenomena menarik dan unik. Salah satunya adalah ‘war takjil’ yang menjadi viral beberapa waktu terakhir.
Istilah ini muncul karena masyarakat bersaing untuk mendapatkan takjil favorit mereka. Takjil sendiri adalah panganan atau minuman untuk berbuka puasa.
Bukan hanya umat muslim, kini fenomena ini juga diikuti oleh masyarakat nonmuslim. Mereka berpartisipasi dengan cara unik, dari terang-terangan hingga menyamarkan diri.
War Takjil Perebutan Kenangan Menurut Pakar IPB
Melihat hal ini, pakar dan dosen IPB University Tjahja Muhandri memberikan pendapatnya. Ia menilai war takjil sebagai fenomena sosial yang sangat unik.
Keunikan ini terlihat dari kemunculan makanan dan minuman yang langka pada hari biasa. Tjahja bahkan menyebut ini bukan sekadar perebutan makanan, melainkan perebutan kenangan.
“Silakan dicek, akan banyak makanan atau minuman yang pada hari biasa tidak ada, tapi muncul saat Ramadan,” tutur Tjahja Muhandri. “Tersaji menarik, harganya murah. Maka rebutan akan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan ‘kenangan’.”
Dampak Positif dan Pentingnya Kebersihan Bagi UMKM
Meningkatnya minat masyarakat pada takjil membawa dampak positif bagi pelaku UMKM. Ketika konsumen berebut membeli takjil, artinya pasar merespons dengan cepat.
Produk yang dijual cenderung laku keras, terutama jika sedang viral di media sosial. Tjahja menyarankan penjual untuk mengikuti tren, namun tetap transparan soal harga jual.
Transparansi harga akan membuat konsumen merasa nyaman dan aman. Mereka tidak khawatir akan ‘digetok harga’ mahal oleh penjual.
Selain itu, Tjahja Muhandri menekankan aspek kebersihan dan keamanan pangan. Pengawasan kualitas produk jualan merupakan hal krusial.
Kebersihan ini mencakup produk, wadah, penyajian, bahkan lapak jualan. Penjual diharap menggunakan perlengkapan standar seperti masker dan sarung tangan bersih.
“Semua bisa jualan dan gelar lapak. Karena itu, aspek kebersihan sangat penting untuk mencegah risiko keracunan atau penyakit,” tegasnya. Penjual harus menjaga kualitas Kuliner mereka.
Ikuti terus berita terbaru seputar publikasi ilmiah hanya di Rifainstitute.com






Leave a Comment