Ramadan Mahasiswa RI di Mesir Kuliah Dipersingkat, Semangat Berbagi Melimpah

Ramadan Mahasiswa RI di Mesir Kuliah Dipersingkat, Semangat Berbagi Melimpah
Ramadan Mahasiswa RI di Mesir Kuliah Dipersingkat, Semangat Berbagi Melimpah

Rifainstitute.com – Bulan suci Ramadan selalu dinanti umat Islam di seluruh dunia. Bagi para mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu dalam bidang Pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ramadan membawa pengalaman istimewa.

Mereka merasakan suasana yang sangat berbeda dibandingkan di tanah air. Salah satu hal menarik adalah jadwal perkuliahan yang dipersingkat. Ini memungkinkan mereka lebih fokus menjalankan ibadah.

Kebijakan kampus ini bertujuan memberikan keringanan khusus bagi mahasiswa. Seluruh mahasiswa menyambut baik kesempatan ini. Mereka dapat lebih khusyuk menikmati ibadah puasa sebulan penuh.

Kuliah Lebih Singkat, Ibadah Lebih Fokus

Fahna Fathika, mahasiswi asal Boyolali, menjelaskan perubahan jadwal ini. Biasanya perkuliahan berlangsung dari pagi hingga sore. Namun, selama Ramadan hanya sampai siang.

“Satu hari cuma ada 2 matkul,” ujar Fahna. Jam perkuliahan paling lama hanya sampai jam 2 siang. Ini memberikan banyak waktu luang untuk ibadah.

Pihak kampus memberikan “rukhsah” atau keringanan. Shafly Athif, mahasiswa Wonogiri, merasakan hal serupa. Mahasiswa merasa lebih nyaman menjalani puasa.

Suasana Ramadan Penuh Berbagi dan Maidaturrahman

Selain penyesuaian jadwal kuliah, suasana Ramadan di Mesir juga sangat menyenangkan. Euforia masyarakat lokal terlihat jelas. Mereka bersemangat untuk berbagi kepada siapa saja yang berpuasa.

Terutama para mahasiswa yang jauh dari keluarga. Banyak rumah menyediakan hidangan berbuka gratis. Mereka membangun tenda, menyiapkan meja, kursi, takjil, hingga makanan berat di depan rumah.

Tradisi ini dikenal dengan sebutan “maidaturrahman”. “Di setiap depan rumah itu pasti ada yang buka puasa gratis,” tutur Shafly. Ini menunjukkan betapa kentalnya semangat kebersamaan.

Universitas Al-Azhar dan Masjid Turut Berbagi

Universitas Al-Azhar sendiri tidak ketinggalan dalam semangat berbagi. Setiap hari mereka menyediakan 10.000 porsi makanan gratis. Makanan ini khusus diperuntukkan bagi “wafidin” atau mahasiswa non-Mesir.

Baca Juga:  EDU-GEOLOCI Inovasi Lulusan Unesa Atasi Trauma Matematika dan Kembangkan Berpikir Spasial

Program ini disambut antusias. Antrean makanan sering mengular panjangnya hingga 200 meter. Mayoritas masjid juga menyediakan hidangan berbuka puasa.

Mulai dari hidangan ringan hingga makanan berat tersedia. Bahkan di setiap sudut tempat, ada saja yang berbagi walau sekadar air putih dan kurma. Toleransi yang tinggi juga membuat penduduk non-muslim ikut berbagi.

Perbedaan Mencolok dengan Ramadan di Indonesia

Shafly menyoroti perbedaan paling mencolok antara Ramadan di Indonesia dan Mesir. Di Indonesia, bulan puasa sering diwarnai dengan maraknya pedagang takjil dadakan. Orang-orang berlomba membuka usaha musiman.

Namun, di Mesir justru sebaliknya. Bulan Ramadan adalah waktunya mereka berlomba-lomba untuk berbagi. “Bulan Ramadan itu malah bukan waktunya untuk mencari uang, tapi untuk waktunya untuk orang-orang Mesir itu berbagi di mana-mana,” jelas Shafly.

Shafly menambahkan, “Mereka itu kayak di sebelas bulan lain selain Ramadan itu mereka mencari uang dibagi-baginya di bulan Ramadan.” Meski rindu kampung halaman, pengalaman berpuasa di Mesir ini cukup menghibur.

Ikuti terus berita terbaru seputar publikasi ilmiah hanya di Rifainstitute.com

Mitra Publikasi Jurnal Ilmiah Terpercaya untuk Peneliti & Akademisi.

Related Post

No comments

Leave a Comment