Banyak penulis pemula, mahasiswa, dosen, hingga peneliti sering mengira bahwa jurnal open access berarti jurnal yang sepenuhnya gratis. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Dalam dunia publikasi ilmiah, istilah open access dan closed access bukan hanya soal “gratis” atau “berbayar”. Keduanya berkaitan dengan siapa yang membayar, siapa yang bisa membaca, bagaimana hak cipta dikelola, serta seberapa luas artikel tersebut dapat menjangkau pembaca.
Kesalahpahaman ini sering muncul ketika penulis menemukan jurnal open access, lalu terkejut karena diminta membayar Article Processing Charge atau APC. Di sisi lain, jurnal closed access terlihat tidak membebankan biaya kepada penulis, tetapi pembaca harus membayar atau memiliki akses melalui institusi.
Agar tidak salah memahami, mari kita bahas perbedaan utama antara open access dan closed access.
Apa Itu Open Access?
Open access adalah model publikasi ilmiah yang memungkinkan artikel dapat dibaca, diunduh, dan diakses secara bebas oleh siapa saja. Pembaca tidak perlu membayar biaya langganan, tidak harus login melalui kampus, dan tidak perlu membeli artikel satu per satu.
Dengan model ini, artikel ilmiah menjadi lebih mudah ditemukan dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Mahasiswa, dosen, peneliti independen, praktisi, pembuat kebijakan, bahkan masyarakat umum dapat membaca hasil penelitian tanpa hambatan biaya akses.
Namun, penting dipahami bahwa gratis untuk pembaca tidak selalu berarti gratis untuk penulis.
Pada banyak jurnal open access, biaya publikasi dibebankan kepada penulis, institusi, sponsor riset, atau lembaga pendanaan. Biaya ini dikenal sebagai APC atau Article Processing Charge. APC digunakan oleh penerbit untuk membiayai proses editorial, pengelolaan naskah, layout, hosting artikel, DOI, pengarsipan digital, dan operasional jurnal lainnya.
Jadi, dalam open access, yang gratis biasanya adalah biaya membaca, bukan selalu biaya menerbitkan.
Apa Itu Closed Access?
Closed access adalah model publikasi ilmiah yang membatasi akses pembaca terhadap artikel. Artikel hanya dapat dibaca oleh orang atau institusi yang membayar biaya langganan, membeli artikel, atau memiliki akses melalui perpustakaan kampus/lembaga.
Dalam model ini, pembaca menjadi pihak yang menanggung biaya akses. Karena itu, mahasiswa atau peneliti yang kampusnya tidak berlangganan jurnal tertentu mungkin tidak bisa membaca artikel secara penuh.
Dari sisi penulis, jurnal closed access sering kali tidak membebankan biaya publikasi atau biaya terbit secara langsung. Namun, artikel yang diterbitkan biasanya berada di balik paywall, sehingga jangkauan pembacanya lebih terbatas.
Selain itu, dalam banyak kasus, hak distribusi artikel lebih banyak dikendalikan oleh penerbit. Penulis mungkin tidak bebas menyebarluaskan versi final artikelnya tanpa mengikuti ketentuan penerbit.
Perbedaan Utama Open Access dan Closed Access
Perbedaan paling sederhana antara keduanya adalah pada pihak yang membayar dan pihak yang mendapat akses.
Pada open access, pembaca dapat membaca artikel secara gratis. Namun, penulis bisa saja dikenakan APC. Artikel juga biasanya memiliki jangkauan yang lebih luas karena dapat ditemukan dan dibaca oleh siapa saja.
Sementara itu, pada closed access, pembaca atau institusi harus membayar untuk mendapatkan akses. Penulis umumnya tidak membayar biaya publikasi, tetapi artikel hanya dapat dibaca oleh kalangan tertentu yang memiliki akses berbayar.
Dari sisi hak pakai ulang, artikel open access sering menggunakan lisensi terbuka, seperti lisensi Creative Commons. Lisensi ini memungkinkan artikel dibagikan, digunakan ulang, atau dikutip dengan ketentuan tertentu. Sebaliknya, pada closed access, hak cipta dan distribusi biasanya lebih dibatasi oleh penerbit.
Dari sisi dampak, artikel open access berpotensi memiliki jangkauan pembaca dan sitasi yang lebih luas. Hal ini karena artikel tidak terkunci di balik paywall. Namun, kualitas dan reputasi jurnal tetap harus diperiksa secara hati-hati.
Apakah Open Access Selalu Lebih Baik?
Tidak selalu.
Open access memang memberikan keuntungan besar dari sisi aksesibilitas dan visibilitas. Artikel lebih mudah dibaca, dibagikan, dan dikutip. Bagi penulis yang ingin penelitiannya berdampak luas, open access bisa menjadi pilihan strategis.
Namun, penulis juga harus memperhatikan biaya APC. Beberapa jurnal open access mengenakan biaya yang cukup tinggi. Karena itu, sebelum submit artikel, penulis perlu memeriksa apakah ada biaya publikasi, berapa besar biayanya, dan kapan biaya tersebut harus dibayarkan.
Selain itu, tidak semua jurnal open access memiliki kualitas yang sama. Penulis harus memastikan jurnal tersebut memiliki proses peer review yang jelas, editorial board yang kredibel, scope yang sesuai, serta terindeks di database yang relevan.
Dengan kata lain, memilih jurnal open access tidak cukup hanya karena artikelnya bisa diakses gratis. Kualitas jurnal tetap menjadi pertimbangan utama.
Apakah Closed Access Masih Relevan?
Ya, closed access masih banyak digunakan, terutama oleh penerbit besar dan jurnal-jurnal lama yang memiliki reputasi kuat. Banyak jurnal closed access memiliki standar editorial yang ketat, proses peer review yang mapan, dan reputasi akademik yang tinggi.
Bagi sebagian penulis, menerbitkan artikel di jurnal closed access tetap menjadi pilihan karena jurnal tersebut dianggap bergengsi di bidangnya. Terutama jika jurnal tersebut memiliki impact factor tinggi, terindeks internasional, atau menjadi rujukan utama dalam disiplin ilmu tertentu.
Namun, kelemahannya adalah keterbatasan akses. Artikel mungkin hanya dibaca oleh orang-orang yang memiliki langganan atau akses institusi. Akibatnya, hasil penelitian tidak selalu mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
Jangan Salah Paham: Open Access Bukan Jurnal Gratis Sepenuhnya
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menganggap open access sama dengan jurnal gratis. Padahal, open access lebih tepat dipahami sebagai akses gratis bagi pembaca.
Dalam banyak kasus, biaya justru berpindah dari pembaca ke penulis atau lembaga pendanaan. Karena itu, penulis harus membaca informasi biaya publikasi di website jurnal sebelum mengirimkan naskah.
Beberapa hal yang perlu dicek sebelum submit ke jurnal open access antara lain:
- Apakah jurnal mengenakan APC?
- Berapa biaya publikasinya?
- Apakah biaya dibayarkan saat submit, setelah diterima, atau setelah proses produksi?
- Apakah tersedia waiver atau keringanan biaya?
- Apakah jurnal memiliki proses peer review yang jelas?
- Apakah jurnal tersebut terindeks di database yang diakui?
- Apakah penerbitnya kredibel?
Pemeriksaan ini penting agar penulis tidak kaget ketika artikel diterima tetapi harus membayar biaya publikasi yang tidak disiapkan sebelumnya.
Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Pilihan antara open access dan closed access sebaiknya disesuaikan dengan tujuan publikasi, anggaran, target pembaca, dan kebutuhan akademik.
Pilih open access jika Anda ingin artikel mudah dibaca oleh banyak orang, memiliki potensi jangkauan luas, dan memiliki dukungan biaya publikasi dari kampus, sponsor, atau dana riset.
Pilih closed access jika jurnal tersebut sangat relevan dengan bidang Anda, memiliki reputasi kuat, dan biaya publikasi menjadi pertimbangan utama.
Namun, apa pun pilihannya, jangan hanya melihat apakah jurnal tersebut gratis atau berbayar. Perhatikan juga reputasi jurnal, kesesuaian scope, kualitas peer review, indeksasi, etika publikasi, dan transparansi biaya.
Kesimpulan
Open access dan closed access memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Open access memungkinkan pembaca mengakses artikel secara gratis, tetapi penulis sering kali perlu membayar APC. Model ini unggul dari sisi keterbukaan, jangkauan pembaca, dan potensi sitasi.
Closed access biasanya membebankan biaya kepada pembaca atau institusi, sementara penulis umumnya tidak membayar biaya terbit. Namun, artikel menjadi lebih terbatas karena hanya dapat diakses oleh pihak yang memiliki langganan.
Jadi, ketika mendengar istilah open access, jangan langsung menganggap jurnal tersebut sepenuhnya gratis. Yang gratis adalah akses membacanya, sedangkan biaya publikasinya bisa saja tetap ada.
Bagi penulis artikel ilmiah, memahami perbedaan ini sangat penting agar dapat memilih jurnal dengan lebih tepat, menyiapkan anggaran publikasi, dan menghindari kesalahpahaman saat proses submit artikel.
Publikasi ilmiah bukan hanya soal terbit, tetapi juga soal strategi, akses, kualitas, dan dampak.








Leave a Comment