10 Artikel Scopus dari Satu Disertasi: Pelajaran dari Dr. Dani Puji Utomo untuk Mahasiswa Doktoral

Rifainstitute

10 Artikel Scopus dari Satu Disertasi Pelajaran dari Dr. Dani Puji Utomo untuk Mahasiswa Doktoral
10 Artikel Scopus dari Satu Disertasi Pelajaran dari Dr. Dani Puji Utomo untuk Mahasiswa Doktoral

Menulis disertasi sudah merupakan perjalanan akademik yang panjang. Namun, bagaimana jika satu rangkaian penelitian doktoral tidak berhenti pada sebuah naskah disertasi, melainkan berkembang menjadi 10 artikel ilmiah terindeks Scopus?

Pencapaian tersebut ditorehkan oleh Dr. Dani Puji Utomo, S.T., M.T., dosen Teknik Kimia Universitas Diponegoro (UNDIP). Dalam rangkaian Wisuda ke-183 UNDIP pada 27 Juli 2026, ia mendapatkan apresiasi khusus atas keberhasilannya menerbitkan sepuluh artikel ilmiah yang bersumber dari penelitian disertasi doktoralnya.

Kisah ini menarik bukan hanya karena jumlah artikelnya. Ada pelajaran yang jauh lebih penting bagi mahasiswa doktoral, dosen, dan peneliti: publikasi ilmiah yang produktif hampir selalu merupakan hasil dari proses yang dirancang, dijalankan secara konsisten, dan dibangun selama bertahun-tahun.

Dari Disertasi Menjadi 10 Artikel Ilmiah

Disertasi pada dasarnya bukan sekadar dokumen tebal yang harus diselesaikan sebagai persyaratan memperoleh gelar doktor.

Di dalam sebuah penelitian doktoral biasanya terdapat banyak komponen ilmiah: pengembangan metode, eksperimen, karakterisasi, analisis data, pengujian model, pembandingan dengan penelitian terdahulu, hingga pengembangan aplikasi dari suatu teknologi.

Apabila sejak awal penelitian dirancang dengan baik, setiap bagian tersebut berpotensi menghasilkan kontribusi ilmiah yang berbeda.

Inilah salah satu hal yang dapat dipelajari dari perjalanan akademik Dr. Dani Puji Utomo. Materi yang dipublikasikan mengenai pencapaiannya menyebutkan bahwa sepuluh artikel tersebut berasal dari penelitian disertasi doktoralnya di bidang Teknik Kimia.

Artinya, penelitian disertasi tidak dipandang sebagai satu proyek besar yang baru dipublikasikan setelah semuanya selesai. Penelitian dapat dikelola sebagai rangkaian kontribusi ilmiah yang saling berkaitan.

Bukan Keberuntungan, tetapi Proses Bertahun-tahun

Salah satu bagian terpenting dari cerita ini justru muncul dari pernyataan bahwa pencapaian tersebut bukan proses instan.

Rekam jejak publikasinya telah dibangun sejak bertahun-tahun sebelumnya. Materi yang dipublikasikan UNDIP juga menggambarkan bahwa perjalanan tersebut setidaknya telah berlangsung sejak sekitar 2017.

Ini memberikan pelajaran penting.

Penulis produktif tidak tiba-tiba mampu menghasilkan banyak artikel ketika memasuki tahap akhir studi doktoral. Kemampuan menulis artikel ilmiah terbentuk melalui proses yang terus diulang:

membaca literatur, melakukan penelitian, menyusun manuskrip, menerima komentar reviewer, melakukan revisi, menghadapi penolakan, mengirimkan kembali artikel, dan akhirnya memahami standar jurnal ilmiah dengan semakin baik.

Baca Juga:  Sarah Akhirnya Bebas Skripsi Berkat Publikasi Scopus, Ini Kisahnya!

Dengan kata lain, produktivitas publikasi adalah akumulasi keterampilan.

Semakin sering seseorang menjalani keseluruhan siklus publikasi, semakin baik pula kemampuannya memahami bagaimana sebuah penelitian harus dikemas menjadi artikel ilmiah.

Peran Writing Camp dan Klinik Manuskrip

Ada bagian lain dari perjalanan Dr. Dani yang layak mendapatkan perhatian.

Selama menjalani proses akademiknya, ia disebut rutin mengikuti Writing Camp yang diselenggarakan LPPM UNDIP serta aktif mengikuti klinik manuskrip di Fakultas Teknik.

Dua kegiatan tersebut dinilai membantunya menjaga konsistensi menulis dan meningkatkan peluang manuskrip untuk menembus jurnal bereputasi.

Hal ini menunjukkan bahwa publikasi ilmiah bukan hanya persoalan kemampuan melakukan penelitian.

Ada keterampilan lain yang harus dikembangkan, antara lain:

  • menerjemahkan hasil penelitian menjadi narasi ilmiah;
  • menentukan novelty atau kebaruan penelitian;
  • memilih jurnal yang sesuai dengan scope penelitian;
  • membangun argumentasi pada bagian introduction;
  • menyajikan metode secara jelas dan dapat direplikasi;
  • membahas hasil penelitian secara kritis;
  • menggunakan literatur yang relevan;
  • merespons komentar reviewer secara akademik; dan
  • menjaga konsistensi menulis dalam jangka panjang.

Karena itu, forum seperti writing camp, kelompok menulis, mentoring akademik, dan klinik manuskrip dapat mempunyai peran sangat penting.

Menulis artikel ilmiah memang dapat dilakukan sendiri. Namun, lingkungan akademik yang mendukung sering kali membuat prosesnya jauh lebih terarah.

Apa yang Bisa Dipelajari Mahasiswa Doktoral?

Pencapaian sepuluh artikel dari sebuah rangkaian penelitian disertasi tidak berarti setiap mahasiswa doktoral harus mengejar angka yang sama.

Setiap bidang memiliki karakteristik berbeda. Durasi eksperimen, ketersediaan data, standar authorship, kebijakan program doktoral, hingga karakter jurnal juga tidak sama.

Namun, ada beberapa prinsip yang dapat dipelajari.

1. Rancang Publikasi Sejak Awal Penelitian

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mahasiswa baru memikirkan artikel ketika disertasi sudah hampir selesai.

Pendekatan yang lebih strategis adalah membuat publication roadmap sejak penelitian mulai dirancang.

Misalnya, sebuah proyek doktoral dapat dipetakan menjadi:

  • studi awal atau literature review;
  • pengembangan metode;
  • eksperimen utama;
  • optimasi;
  • karakterisasi;
  • validasi;
  • studi aplikasi; dan
  • pengembangan lanjutan.
Baca Juga:  Fenomena 'Silent Resignation' di Dunia Sains, Mengapa Para Ilmuwan Hengkang?

Tidak seluruh bagian harus menjadi artikel terpisah. Namun, pemetaan semacam ini membantu mahasiswa melihat sejak awal kemungkinan kontribusi ilmiah yang dapat dihasilkan.

2. Satu Artikel Harus Memiliki Kontribusi yang Jelas

Memecah penelitian menjadi beberapa artikel bukan berarti satu kumpulan data sengaja dipotong menjadi sebanyak mungkin publikasi.

Praktik seperti salami slicing justru perlu dihindari.

Setiap artikel seharusnya memiliki:

pertanyaan penelitian yang jelas, kontribusi ilmiah yang cukup, analisis yang memadai, dan alasan akademik mengapa penelitian tersebut layak menjadi publikasi tersendiri.

Targetnya bukan memperbanyak jumlah artikel semata, melainkan memperbanyak kontribusi ilmiah yang bermakna.

3. Jangan Menunggu Penelitian Sempurna untuk Mulai Menulis

Banyak mahasiswa menunggu semua eksperimen selesai sebelum mulai menulis.

Akibatnya, pekerjaan menumpuk pada tahun terakhir.

Padahal, beberapa bagian manuskrip sebenarnya sudah dapat dikerjakan lebih awal. Literature review dapat dikembangkan sejak awal. Bagian metode dapat ditulis ketika eksperimen berlangsung. Tabel dan grafik dapat diperbarui secara berkala.

Dengan pendekatan seperti ini, menulis menjadi bagian dari proses penelitian, bukan pekerjaan tambahan setelah penelitian selesai.

4. Bangun Sistem Menulis, Bukan Mengandalkan Mood

Salah satu kata kunci dari perjalanan publikasi Dr. Dani adalah konsistensi.

Sepuluh artikel tidak mungkin diselesaikan hanya dengan menunggu datangnya inspirasi.

Peneliti membutuhkan sistem.

Sebagai contoh, seseorang dapat menyediakan beberapa jam khusus setiap minggu untuk membaca dan menulis manuskrip. Targetnya tidak harus besar.

Menulis 300–500 kata, memperbaiki sebuah tabel, membaca lima artikel penting, atau menyelesaikan satu bagian discussion secara konsisten akan menghasilkan kemajuan jauh lebih besar dibandingkan menunggu waktu luang yang sempurna.

Disertasi Seharusnya Menjadi Awal, Bukan Akhir

Di banyak perguruan tinggi, disertasi sering dipersepsikan sebagai garis akhir perjalanan studi doktoral.

Setelah ujian selesai dan gelar diperoleh, dokumen tersebut kemudian hanya tersimpan di repositori.

Padahal, dari perspektif pengembangan ilmu pengetahuan, disertasi justru dapat menjadi sumber dari berbagai penelitian dan publikasi berikutnya.

Satu disertasi dapat melahirkan artikel jurnal, paper konferensi, systematic review, pengembangan metode, penelitian lanjutan, hingga kolaborasi dengan kelompok penelitian lain.

Baca Juga:  Bahlil Lahadalia Disanksi Kampus, Kenapa Ya?

Cara pandang ini penting karena tujuan penelitian doktoral tidak sekadar menghasilkan dokumen untuk memperoleh gelar.

Tujuan akhirnya adalah menghasilkan pengetahuan baru yang dapat dibaca, diuji, dikritisi, dan dikembangkan oleh komunitas ilmiah.

Dan salah satu jalur utama agar pengetahuan tersebut menjangkau komunitas akademik internasional adalah publikasi ilmiah.

Jangan Hanya Mengejar Label “Scopus”

Cerita mengenai sepuluh artikel Scopus tentu menarik perhatian.

Namun, ada satu prinsip yang tidak boleh dilupakan.

Scopus adalah basis data pengindeks, bukan tujuan akhir penelitian.

Peneliti tetap perlu memperhatikan kualitas jurnal, relevansi scope, proses peer review, kredibilitas penerbit, kontribusi artikel, serta dampak penelitian terhadap perkembangan bidang keilmuan.

Sebuah artikel yang mempunyai pertanyaan penelitian penting, metode kuat, analisis transparan, dan kontribusi jelas jauh lebih berharga dibandingkan publikasi yang hanya dibuat untuk memenuhi target angka.

Karena itu, strategi publikasi yang sehat seharusnya tidak berbunyi:

“Bagaimana caranya menghasilkan sebanyak mungkin artikel?”

Melainkan:

“Bagaimana satu proyek penelitian dapat menghasilkan sebanyak mungkin kontribusi ilmiah yang benar-benar layak dipublikasikan?”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi sangat menentukan integritas seorang peneliti.

Publikasi adalah Marathon, Bukan Sprint

Kisah Dr. Dani Puji Utomo memperlihatkan bahwa di balik angka “10 artikel Scopus” terdapat perjalanan yang jauh lebih panjang.

Ada penelitian bertahun-tahun.

Ada proses menulis berulang kali.

Ada lingkungan akademik yang mendukung.

Ada writing camp.

Ada klinik manuskrip.

Dan tentu saja ada proses submission, review, revisi, serta kemungkinan menghadapi penolakan yang menjadi bagian normal dari publikasi ilmiah.

Inilah pelajaran terpentingnya.

Rekam jejak publikasi yang kuat tidak dibangun dalam beberapa minggu menjelang kelulusan. Ia dibangun sedikit demi sedikit sejak proses penelitian dimulai.

Bagi mahasiswa doktoral yang saat ini baru memulai perjalanan akademik, mungkin belum perlu memikirkan bagaimana menghasilkan sepuluh artikel.

Mulailah dengan pertanyaan yang lebih sederhana:

Dari penelitian yang sedang saya lakukan sekarang, apa kontribusi ilmiah yang benar-benar dapat saya publikasikan?

Setelah kontribusi pertama ditemukan, selesaikan.

Kemudian lanjutkan ke kontribusi berikutnya.

Karena dalam publikasi ilmiah, konsistensi selama bertahun-tahun sering kali menghasilkan pencapaian yang pada akhirnya terlihat luar biasa.

Mitra Publikasi Jurnal Ilmiah Terpercaya untuk Peneliti & Akademisi.

Related Post

No comments

Leave a Comment