Pada usia 22 tahun, Aqsa Aufa Syauqi Sadana, S.Ked., M.Biomed., telah menuntaskan pendidikan Magister Ilmu Biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip). Ia lulus melalui skema Degree by Research (DBR) dengan Indeks Prestasi Kumulatif sempurna, 4,00.
Pencapaian Aqsa tidak berhenti pada nilai akademik. Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik Program Magister Ilmu Biomedik FK Undip, menerima penghargaan Publikasi Terbaik, dan meraih DPD Award 2025 atas kontribusinya pada riset biomedis serta pengembangan teknologi kesehatan berbasis kearifan lokal.
Kisahnya menarik bukan semata-mata karena usia atau deretan penghargaan. Di balik capaian tersebut terdapat proses yang sangat lekat dengan dunia akademik: menyusun target, membangun kolaborasi, mengolah data, menerima kritik, dan berulang kali memperbaiki manuskrip.
<!– SISIPKAN GAMBAR 2: 81853d9a-7ea0-4949-a0c0-88b8702e4674.png –>
Caption: Aqsa dinobatkan sebagai lulusan terbaik Program Magister Ilmu Biomedik FK Undip. Sumber informasi: Universitas Diponegoro.
Lulus Melalui Jalur Degree by Research dengan IPK 4,00
Skema Degree by Research menempatkan kegiatan penelitian sebagai bagian sentral dalam proses pendidikan. Bagi Aqsa, menjalani jalur ini berarti mengelola rangkaian pekerjaan yang panjang, mulai dari penyusunan proposal dan pengumpulan data hingga analisis laboratorium, analisis statistik, serta penulisan artikel ilmiah.
Menurut keterangan resmi Universitas Diponegoro, Aqsa membagi proses tersebut ke dalam target mingguan dan bulanan. Cara kerja ini membuat pekerjaan besar menjadi serangkaian sasaran yang lebih terukur.
Kecepatan menyelesaikan studi, dengan demikian, tidak lahir dari jalan pintas. Capaian itu ditopang oleh konsistensi mengerjakan setiap tahap riset dan kemampuan menjaga kemajuan dari waktu ke waktu.
Manajemen Waktu Saja Tidak Cukup: Riset Membutuhkan Kolaborasi
Aqsa juga menekankan bahwa keberhasilan penelitian bukan hasil kerja seorang diri. Dukungan dosen pembimbing, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), keluarga, dan rekan penelitian membantu memastikan setiap tahap dapat berjalan.
Hal ini relevan bagi mahasiswa dan peneliti muda. Sebuah penelitian membutuhkan keahlian yang beragam—mulai dari pemahaman substansi, desain metode, kerja laboratorium, analisis statistik, hingga komunikasi ilmiah. Kolaborasi memungkinkan peneliti saling menguji gagasan sekaligus menutup keterbatasan kompetensi individual.
Jejaring yang sehat juga bukan sekadar daftar nama pada manuskrip. Kolaborasi yang bermakna dibangun melalui pembagian peran yang jelas, komunikasi rutin, keterbukaan terhadap evaluasi, dan tujuan ilmiah yang disepakati bersama.
Meneliti Interaksi Genetik dan Paparan Merkuri pada Kehamilan
Riset Aqsa berada pada bidang yang penting bagi kesehatan ibu dan anak. UNDIP menyebut penelitiannya sebagai bagian dari SIMCEH 2019–2024, sebuah penelitian yang mengkaji interaksi variasi genetik dan paparan lingkungan, khususnya paparan merkuri pada ibu hamil.
Secara sederhana, paparan zat yang sama tidak selalu menimbulkan respons identik pada setiap orang. Variasi genetik dapat memengaruhi cara tubuh memetabolisme atau mendetoksifikasi merkuri. Karena itu, memahami hubungan antara faktor lingkungan dan kerentanan genetik dapat membantu pengembangan penilaian risiko serta intervensi prenatal yang lebih tepat.
<!– SISIPKAN GAMBAR 3: cb3f50fb-7944-4f7c-9cd4-006be9602f24.png –>
Caption: Publikasi Aqsa membahas bagaimana variasi genetik dapat memodulasi dampak paparan merkuri terhadap luaran perinatal dan kelahiran.
Publikasi Aqsa yang tercatat di PubMed berjudul Genetic Modulation of Mercury Exposure on Perinatal and Birth Outcomes: A Systematic Review and Meta-Analysis of Gene-Environment Interactions. Artikel tersebut terbit di Journal of Xenobiotics pada 6 Februari 2026 dengan DOI 10.3390/jox16010028.
Tinjauan itu menyeleksi 12 studi dengan total 4.995 partisipan. Beberapa gen yang paling sering dikaji antara lain GSTP1, GCLC, GCLM, GPX1, MT1A, ALAD, dan APOE. Hasilnya menunjukkan gambaran yang tidak hitam-putih. Analisis terhadap variasi GSTP1 tertentu tidak menemukan hubungan yang signifikan secara statistik dengan kadar merkuri pada rambut, walaupun arah hasilnya mengindikasikan kemungkinan efek protektif. Sementara itu, sejumlah variasi pada gen lain dilaporkan berkaitan dengan kadar merkuri atau luaran kehamilan tertentu.
Nuansa tersebut penting. Riset ilmiah yang baik tidak memaksakan kesimpulan, melainkan menyampaikan seberapa kuat bukti yang tersedia, apa keterbatasannya, dan pertanyaan apa yang masih harus dijawab melalui penelitian berikutnya.
Tembus Jurnal Scopus Q1 Setelah Melewati Revisi
UNDIP menyatakan bahwa manuskrip Aqsa berhasil terbit di jurnal internasional bereputasi Scopus Q1. Namun, publikasi tersebut bukan hasil yang datang secara instan. Naskahnya melewati masukan dan revisi dari para penelaah sebelum dinilai layak dipublikasikan.
<!– SISIPKAN GAMBAR 4: 52276c74-ac56-4c1d-a022-b8bad6a4c7f8.png –>
Caption: Aqsa menilai ketekunan memperbaiki kualitas manuskrip menjadi bagian penting dalam proses menembus jurnal internasional bereputasi.
Dalam keterangannya, Aqsa menegaskan bahwa keberhasilan publikasi lebih banyak ditentukan oleh “ketekunan dalam memperbaiki kualitas manuskrip”. Pesan ini patut dicatat: komentar reviewer bukan sekadar hambatan menuju terbit, melainkan mekanisme untuk menguji argumentasi, metode, analisis, dan cara peneliti menjelaskan temuannya.
Bagi penulis artikel ilmiah, orientasi pada kualitas akan membuat proses publikasi lebih sehat. Pemilihan jurnal tetap penting, tetapi reputasi jurnal tidak dapat menggantikan pertanyaan riset yang relevan, metode yang dapat dipertanggungjawabkan, pelaporan hasil yang jujur, dan pembahasan yang proporsional.
Baca juga: Teknik Penulisan Jurnal Ilmiah dan Strategi Menghindari Jurnal Predator
Dari Publikasi ke Inovasi Kesehatan
Di luar riset magisternya, Aqsa aktif bersama MISSER Team FK Undip dalam mengembangkan inovasi kesehatan. Pada ajang International Invention, Innovation, and Technology Exhibition—World Young Inventors Exhibition (ITEX–WYIE) 2024 di Malaysia, tim tersebut meraih Double Gold Award serta Grand Award Top 3 Best Innovation.
Pada Indonesian Inventor Day 2024, MISSER Team membawa ACNOBAN, inovasi berbahan ekstrak rebung bambu apus yang diproses dengan teknologi enkapsulasi kitosan dan ditujukan untuk membantu mengatasi acne vulgaris atau jerawat. Inovasi tersebut memperoleh Gold Award kategori Beauty and Personal Care Product serta Best International Invention Innovation Award dari National Research Council of Thailand (NRCT).
<!– SISIPKAN GAMBAR 5: 0af32f74-be23-443a-bb98-63dcf0158990.png –>
Caption: Aqsa bersama MISSER Team FK Undip meraih penghargaan internasional melalui inovasi kesehatan berbasis riset.
Rangkaian prestasi itu menunjukkan hubungan penting antara publikasi dan inovasi. Artikel ilmiah membantu pengetahuan diuji serta dipertukarkan dalam komunitas akademik, sedangkan inovasi berupaya menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi yang dapat digunakan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Baca juga: Publikasi Scopus vs Kebermanfaatan Ilmu bagi Masyarakat
Membangun Ruang Kolaborasi bagi Peneliti Muda
Komitmen Aqsa terhadap riset juga diwujudkan dengan mendirikan AQSA Center, wadah kolaborasi riset dan inovasi bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat. Inisiatif ini membawa pesan bahwa talenta muda membutuhkan lebih dari motivasi pribadi. Mereka juga memerlukan ruang belajar, pendampingan, jejaring, dan kesempatan untuk mengerjakan persoalan nyata.
Ke depan, Aqsa berharap dapat melanjutkan pendidikan, memperluas kolaborasi nasional dan internasional, serta menghasilkan penelitian yang mendukung inovasi teknologi kesehatan dan kebijakan berbasis bukti.
Lima Pelajaran dari Perjalanan Aqsa Aufa Syauqi Sadana
Kisah Aqsa memberi sedikitnya lima pelajaran bagi mahasiswa dan peneliti muda.
- Ubah tujuan besar menjadi target berkala. Proposal, pengumpulan data, analisis, dan manuskrip lebih mudah dikelola ketika masing-masing memiliki tenggat yang realistis.
- Bangun tim dengan peran yang jelas. Riset berkualitas lahir dari kolaborasi yang aktif, bukan sekadar penambahan nama.
- Perlakukan kritik sebagai bagian dari metode ilmiah. Masukan pembimbing dan reviewer membantu menemukan kelemahan yang mungkin luput dari penulis.
- Jangan mengejar label jurnal dengan mengorbankan mutu. Pertanyaan yang relevan, metode yang tepat, dan pelaporan yang transparan tetap menjadi fondasi utama.
- Hubungkan publikasi dengan manfaat. Penelitian memperoleh makna yang lebih besar ketika pengetahuannya dapat mendukung inovasi, layanan, atau kebijakan yang memperbaiki kehidupan masyarakat.
Kesimpulan untuk Sobat Rifa Institute
Lulus magister pada usia 22 tahun dengan IPK 4,00 memang membuat perjalanan Aqsa Aufa Syauqi Sadana menonjol. Namun, pelajaran terpenting justru berada di balik angka tersebut: disiplin membangun proses, keberanian menerima koreksi, kemampuan bekerja bersama, dan kemauan mengarahkan riset pada manfaat yang lebih luas.
Prestasi akademik bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat. Setiap orang memiliki titik awal dan tantangan berbeda. Kisah Aqsa menunjukkan bahwa ketika rasa ingin tahu dipadukan dengan sistem kerja yang konsisten dan lingkungan kolaboratif, peneliti muda Indonesia dapat menghasilkan karya yang diperhitungkan di tingkat internasional.
Ikuti terus Rifainstitute.com untuk memperoleh informasi dan inspirasi terbaru seputar riset, publikasi ilmiah, inovasi, dan prestasi akademik.
Sumber
- Universitas Diponegoro—Lulus Magister di Usia 22 Tahun, Aqsa Aufa Syauqi Sadana Raih IPK 4,00 dan Torehkan Prestasi Riset Internasional
- PubMed—Genetic Modulation of Mercury Exposure on Perinatal and Birth Outcomes
- Universitas Diponegoro—MISSER TEAM FK Undip Raih Penghargaan di ITEX–WYIE 2024
- Universitas Diponegoro—MISSER Team Raih Penghargaan Indonesian Inventor Day 2024 melalui ACNOBAN








Leave a Comment