Menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) seringkali identik dengan jadwal kuliah yang padat, tumpukan buku tebal, dan waktu yang dihabiskan di laboratorium. Jangankan untuk berorganisasi, waktu untuk beristirahat pun kadang terasa kurang. Namun, stereotip ini berhasil dipatahkan oleh Fatimah Azzahra, mahasiswi semester 6 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua BEM UI.
Di tengah kesibukan akademisnya yang luar biasa, Fatimah tetap tampil kritis dan vokal dalam menyuarakan isu-isu sosial-politik. Sosoknya belakangan ini menjadi sorotan publik (viral) karena keberanian dan ketajamannya dalam berargumen.
Lantas, bagaimana seorang mahasiswi kedokteran membagi waktu antara kuliah yang menuntut fokus tinggi dan memimpin organisasi pergerakan mahasiswa terbesar di kampusnya? Dalam sebuah wawancara bertajuk Up Close and Personal, Fatimah membagikan pandangannya.
1. Manajemen Waktu: Pagi untuk Akademik, Sore untuk Pergerakan
Bagi Fatimah, rahasia utamanya terletak pada pembagian waktu yang tegas namun fleksibel. Ia mendedikasikan pagi hingga sore hari murni untuk studinya.
“Sebetulnya aku kuliah memang dari pagi banget, dari jam 8 sampai jam 3 sore. Di situ baginya sih, jadi setelah itu baru ngurusin organisasi,” ungkap Fatimah.
Namun, sebagai mahasiswa, ia sadar betul bahwa kewajiban akademis tetap nomor satu. Menjelang masa ujian, Fatimah memiliki komitmen bersama timnya di BEM UI. Ia akan meminta izin rehat sejenak dari urusan organisasi demi fokus menghadapi ujian. Beruntung, lingkungan organisasinya sangat suportif. Setelah masa ujian selesai, ia pun kembali tancap gas mengurus BEM. Komunikasi dan saling pengertian adalah kunci keseimbangannya.
2. Titik Lelah dan Alasan untuk Terus Bertahan
Menjalani peran ganda tentu tidak lepas dari rasa lelah. Ketika ditanya apakah ia pernah merasa ragu atau ingin berhenti dari BEM, Fatimah tidak menampik hal tersebut.
“Masa-masa lelah pasti ada, terutama ketika ujian lagi banyak-banyaknya,” akunya.
Meski begitu, rasa lelah itu selalu berhasil dikalahkan oleh hasil nyata dari apa yang ia dan teman-temannya perjuangkan. Ketika melihat pergerakan perlahan membuahkan hasil, suara mahasiswa mulai didengar, dan ada dampak positif yang tercipta, di situlah semangat Fatimah kembali menyala.
3. Menjaga Napas Pergerakan di Era Viral yang Cepat Berlalu
Tantangan terbesar aktivisme di era digital adalah isu yang mudah viral, namun besoknya bisa dengan cepat dilupakan oleh publik. Bagaimana BEM UI menyikapi hal ini?
Fatimah menekankan pentingnya konsistensi dan kreativitas. “Tantangannya adalah menjaga dan mempertahankan isu. Konsisten terhadap isu yang dibawakan,” jelasnya.
Lebih dari sekadar berteriak, pergerakan mahasiswa juga harus mengukur tingkat realistis dari tuntutan yang diajukan kepada pemerintah. Selain itu, kreativitas dalam mengemas dan menghangatkan isu menjadi sangat penting agar substansi permasalahan tidak tenggelam begitu saja. Tujuannya bukan sekadar mengejar trending topic, melainkan mengawal perubahan nyata.
4. Aktivisme Udara: Bersuara di Medsos Juga Sebuah Sikap
Tidak semua mahasiswa memiliki keberanian atau kesempatan untuk turun ke jalan dan berdemonstrasi. Banyak yang memilih untuk berteriak melalui platform media sosial (sering disebut aktivis sosmed atau keyboard warrior). Apakah hal ini salah?
Fatimah memberikan pandangan yang sangat bijak. Baginya, menyuarakan pendapat melalui media sosial tetaplah sebuah bentuk partisipasi yang valid.
“Menurut saya itu tidak apa-apa. Berkoar-koar di sosmed itu tetap sebuah sikap. Yang tidak boleh itu adalah diam saja ketika Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” tegasnya.
Kesimpulan untuk Sobat Rifa Institute
Kisah Fatimah Azzahra memberikan kita pelajaran berharga. Kesibukan di bangku kuliah (bahkan di jurusan seberat kedokteran sekalipun) bukanlah alasan untuk bersikap apatis terhadap kondisi bangsa.
Manajemen waktu yang baik, penentuan skala prioritas, dan niat yang tulus untuk membawa perubahan adalah modal utama untuk menyeimbangkan prestasi akademik dan kontribusi sosial. Seperti pesan Fatimah, di mana pun ranah kita bergerak baik turun ke jalan, berdiskusi di ruang kelas, maupun bersuara di media sosial yang terpenting adalah kita tidak memilih diam ketika melihat ketidakadilan.
Bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu mengambil peranmu hari ini?








Leave a Comment