Menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar di ruang kelas. Di balik aktivitas perkuliahan, seorang akademisi juga dituntut untuk terus melakukan penelitian, menghasilkan inovasi, mempublikasikan karya ilmiah, hingga memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Hal tersebut mulai dibangun oleh Laksmi Evasudi Widi Fajari, yang pada 2026 mendapatkan kesempatan terlibat sebagai anggota peneliti dalam empat program hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Menariknya, capaian tersebut diraih ketika perjalanan Laksmi sebagai dosen PNS masih terbilang baru, yakni sekitar satu tahun.
Empat program tersebut berasal dari berbagai skema, mulai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, hingga hibah internal Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA).
Jika dihitung berdasarkan nilai pendanaan selama periode kontrak masing-masing program, totalnya mencapai sekitar Rp1,13 miliar.
Namun, angka tersebut bukan menjadi satu-satunya hal yang menarik. Di baliknya terdapat proses membangun rekam jejak penelitian, kolaborasi akademik, pengembangan inovasi pendidikan, hingga kontribusi kepada masyarakat.
Empat Hibah Penelitian dan Pengabdian pada 2026
Empat hibah yang melibatkan Laksmi memiliki fokus penelitian yang cukup beragam.
Topiknya mencakup kearifan lokal, eco-social pedagogy, research-based learning, decision making, pembelajaran berdiferensiasi, augmented reality, literasi sains dan digital, hingga pendidikan ramah gender.
Berikut empat program tersebut.
1. Hibah BRIN: Riset Kearifan Lokal dan Eco-Social Pedagogy
Program pertama berasal dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju – Ekspedisi Gelombang X.
Laksmi terlibat sebagai anggota peneliti dalam penelitian berjudul:
“Eksplorasi Kearifan Lokal Pulau Jawa sebagai Content Knowledge dalam Pengembangan Sistem Eco-Social Pedagogy.”
Program tersebut memperoleh pendanaan sebesar Rp250 juta per tahun dengan skema multiyears selama tiga tahun.
Dengan demikian, total nilai program selama periode kontrak mencapai sekitar Rp750 juta.
Penelitian ini berupaya mengeksplorasi kearifan lokal yang berkembang di berbagai wilayah Pulau Jawa untuk kemudian dikembangkan sebagai content knowledge dalam sistem eco-social pedagogy.
Pendekatan tersebut menjadi menarik karena menghubungkan aspek pendidikan, sosial, budaya, dan lingkungan.
Kearifan lokal tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran.
2. Penelitian Fundamental Reguler BIMA 2026
Hibah berikutnya berasal dari skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR) BIMA 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dalam program ini, Laksmi kembali terlibat sebagai anggota peneliti.
Penelitian tersebut berjudul:
“Implementasi Model Research-based Learning dalam Pengembangan Decision Making Mahasiswa LPTK.”
Nilai pendanaan program mencapai Rp150 juta per tahun selama dua tahun.
Dengan skema multiyears tersebut, total nilai program mencapai sekitar Rp300 juta.
Penelitian berfokus pada implementasi research-based learning untuk membantu mengembangkan kemampuan decision making mahasiswa Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Pendekatan ini relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi saat ini.
Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori. Mereka juga perlu memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, mengevaluasi bukti, dan mengambil keputusan berdasarkan proses berpikir ilmiah.
Program penelitian tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan berbagai luaran akademik, termasuk buku, artikel ilmiah bereputasi, serta kekayaan intelektual berupa instrumen penelitian.
3. Hibah Internal UNTIRTA: Pembelajaran Berdiferensiasi Berbasis AR
Program ketiga berasal dari Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Internal Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) melalui skema Penelitian Dosen Madya (PDM).
Laksmi terlibat sebagai anggota peneliti dalam penelitian berjudul:
“Pengembangan Desain Pembelajaran Berdiferensiasi Berbantuan Augmented Reality Book untuk Meningkatkan Science Literacy & Digital Literacy Ditinjau dari Reflective Thinking Siswa SD.”
Program tersebut memperoleh pendanaan sebesar Rp30 juta per tahun.
Penelitian ini menggabungkan sejumlah konsep penting dalam pendidikan modern, mulai dari pembelajaran berdiferensiasi, augmented reality, literasi sains, literasi digital, hingga reflective thinking siswa sekolah dasar.
Salah satu produk yang dikembangkan dalam penelitian tersebut adalah AR Book “Petualangan Hijau”.
Selain pengembangan produk pembelajaran, penelitian juga diarahkan untuk menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal terakreditasi.
Pemanfaatan teknologi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak semata-mata menggunakan teknologi agar pembelajaran terlihat modern.
Teknologi perlu dirancang berdasarkan kebutuhan pembelajaran serta diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan pendidikan secara nyata.
4. BIMA PKM 2026: Media AR Berbasis STEAM untuk Guru PAUD
Program keempat berasal dari Pengabdian kepada Masyarakat BIMA 2026 melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Program tersebut mengangkat kegiatan berjudul:
“Penguatan Kompetensi Pedagogi Ramah Gender Guru PAUD Melalui Media AR Berbasis STEAM Tentang Kesetaraan Gender.”
Laksmi terlibat sebagai bagian dari tim dengan pendanaan program sebesar Rp50 juta per tahun.
Berbeda dengan tiga program sebelumnya yang memiliki fokus kuat pada penelitian, program ini menempatkan implementasi pengetahuan kepada masyarakat sebagai salah satu orientasi utama.
Kegiatannya diarahkan untuk memperkuat kompetensi pedagogi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), khususnya dalam membangun pembelajaran yang ramah gender.
Teknologi Augmented Reality dipadukan dengan pendekatan STEAM — Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics.
Salah satu produk yang dikembangkan adalah GEN-STEM AR, sebuah media pembelajaran berbasis teknologi yang menggabungkan konsep STEAM dengan materi kesetaraan gender.
Total Nilai Program Mencapai Sekitar Rp1,13 Miliar
Jika dihitung berdasarkan periode kontrak masing-masing program, nilai pendanaannya dapat dirangkum sebagai berikut:
| Program | Nilai Pendanaan |
|---|---|
| BRIN – Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju | Rp750.000.000 |
| PFR BIMA 2026 | Rp300.000.000 |
| PDM Internal UNTIRTA | Rp30.000.000 |
| PKM BIMA 2026 | Rp50.000.000 |
| Total | ± Rp1.130.000.000 |
Penting untuk dipahami bahwa angka Rp1,13 miliar tersebut bukan merupakan dana pribadi yang diterima oleh seorang peneliti.
Nominal tersebut merupakan akumulasi nilai pendanaan program penelitian dan pengabdian yang dikelola oleh tim sesuai periode kontrak, rencana anggaran, ketentuan penyelenggara hibah, serta target luaran masing-masing program.
Dana penelitian merupakan amanah yang digunakan untuk menjalankan kegiatan riset, pengembangan produk, publikasi, pengumpulan dan analisis data, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Bukan Sekadar “Borong Hibah”
Terlibat dalam empat program sekaligus pada fase awal perjalanan sebagai dosen tentu menjadi capaian yang menarik.
Namun, nilai yang lebih besar dari pengalaman tersebut terletak pada proses kolaborasi dan pembangunan rekam jejak akademik.
Penelitian saat ini semakin membutuhkan kerja sama.
Permasalahan pendidikan yang kompleks sering kali tidak dapat diselesaikan melalui satu perspektif keilmuan saja. Dibutuhkan tim dengan kompetensi berbeda, jaringan akademik yang kuat, serta kemampuan untuk berkolaborasi.
Bagi dosen yang masih berada pada tahap awal karier, menjadi anggota peneliti juga merupakan proses belajar yang sangat berharga.
Melalui keterlibatan dalam sebuah tim riset, seorang dosen dapat mempelajari bagaimana proposal kompetitif disusun, metodologi penelitian dirancang, instrumen dikembangkan, data dianalisis, hingga publikasi dan luaran penelitian direncanakan.
Karena itu, perjalanan akademik tidak selalu harus dimulai dengan menjadi ketua penelitian.
Menjadi anggota tim yang aktif, produktif, dan dapat diandalkan juga merupakan bagian penting dalam membangun reputasi akademik.
Pelajaran untuk Dosen Muda yang Ingin Mulai Riset
Perjalanan Laksmi juga memberikan gambaran bahwa rekam jejak penelitian dapat dibangun secara bertahap.
Salah satu langkah terpenting adalah tidak menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mulai terlibat dalam penelitian.
Kemampuan melakukan riset justru berkembang melalui pengalaman.
Dosen muda dapat memulainya dengan bergabung dalam tim penelitian, menulis publikasi bersama, membantu mengembangkan instrumen, melakukan pengumpulan atau analisis data, hingga terlibat dalam penyusunan luaran.
Lingkungan akademik juga memiliki pengaruh besar.
Berada di tengah ekosistem yang aktif melakukan penelitian membuat seorang dosen lebih sering bersentuhan dengan diskusi mengenai proposal, metodologi, jurnal, publikasi, hingga peluang hibah.
Dari sanalah kolaborasi baru sering kali bermula.
Hibah Bukan Garis Finis
Mendapatkan hibah penelitian pada dasarnya bukanlah akhir dari sebuah perjalanan.
Justru setelah proposal dinyatakan memperoleh pendanaan, pekerjaan sesungguhnya dimulai.
Tim penelitian harus menjalankan program sesuai rencana, mengumpulkan dan menganalisis data, memenuhi target luaran, mengembangkan produk, menyelesaikan laporan, serta mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran.
Publikasi ilmiah, buku, kekayaan intelektual, model pembelajaran, produk teknologi, serta dampak kepada masyarakat menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut.
Karena itu, keterlibatan Laksmi Evasudi Widi Fajari dalam empat hibah pada 2026 bukan hanya cerita tentang program penelitian dengan akumulasi nilai lebih dari Rp1 miliar.
Lebih jauh, capaian tersebut menjadi bagian dari proses membangun fondasi sebagai akademisi yang aktif dalam penelitian, kolaborasi, inovasi pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Baru sekitar satu tahun menjalani perjalanan sebagai dosen PNS, empat program ini dapat menjadi awal dari perjalanan akademik yang masih panjang.
Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah hibah bukan hanya terletak pada besarnya pendanaan yang diperoleh, tetapi pada seberapa besar pengetahuan, inovasi, dan manfaat yang dapat dihasilkan dari penelitian tersebut.
Kenal Lebih Dekat dengan Laksmi Evasudi Widi Fajari
Aktivitas dan perjalanan akademik Laksmi Evasudi Widi Fajari juga dapat diikuti melalui Instagram @evasufilaksmi.
Untuk versi yang akan dipublikasikan di website, username tersebut bisa langsung ditautkan ke profil Instagram yang Anda berikan agar pembaca dapat mengenal aktivitas akademik dan karya beliau lebih jauh.








Leave a Comment