Di era digital seperti saat ini, kemudahan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam urusan administrasi. Tanda tangan elektronik (e-sign) kini menjadi solusi instan bagi banyak instansi untuk mempercepat proses pengesahan dokumen. Namun, pemandangan berbeda dan penuh haru datang dari Universitas Islam Indonesia (UII).
Sang Rektor, Bapak Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., dengan penuh kesadaran memilih untuk tetap menolak penggunaan tanda tangan elektronik pada ijazah mahasiswanya. Apa yang melatarbelakangi keputusan yang terkesan ‘tradisional’ di tengah gempuran modernisasi ini? Jawabannya sungguh menyentuh hati.
Dedikasi Luar Biasa: Menandatangani Lebih dari 200 Ribu Dokumen
Dalam sebuah momen wisuda yang khidmat, Prof. Fathul Wahid mengungkapkan sebuah fakta yang membuat decak kagum para hadirin. Selama 8 tahun masa jabatannya, beliau telah menyaksikan lebih dari 43.000 mahasiswa lulus dengan wajah bahagia.
Sebagai bentuk pengesahan, beliau menolak menggunakan mesin atau sistem elektronik. Sosok inspiratif yang juga kerap membagikan pemikirannya melalui akun Instagram @fathulwahid_ ini memilih untuk menandatangani ijazah, transkrip nilai, dan salinannya secara manual. Jika ditotal, beliau telah menorehkan tanda tangan basah pada lebih dari 200.000 lembar dokumen!
Tentu, ini bukan pekerjaan yang ringan. Dibutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran ekstra. Namun, hingga hari ini, beliau menegaskan keengganannya untuk mengganti tanda tangan basah tersebut dengan versi elektronik.
Alasan Sederhana Namun Mendalam: Sebuah Ruang untuk Berdoa
Bukan karena anti-teknologi, alasan Prof. Fathul Wahid menolak tanda tangan elektronik ternyata sangat spiritual dan penuh kasih sayang.
“Alasannya sederhana. Justru ketika saya tanda tangan itu, saya punya kesempatan untuk mewiritkan (memanjatkan) doa untuk setiap ijazah dan transkrip yang saya tanda tangani,” ungkap beliau.
Pernyataan ini seolah menjadi tamparan lembut bagi para pendidik. Beliau menyadari sebuah fenomena yang kerap terjadi di dunia pendidikan: “Seringkali dosen atau guru itu suka menyalah-nyalahkan mahasiswa atau muridnya, tapi lupa untuk mendoakan.”
Melalui goresan tinta di setiap lembar ijazah, sang Rektor menyisipkan doa dan harapan terbaik untuk masa depan anak didiknya. Baginya, ijazah bukan sekadar selembar kertas tanda kelulusan, melainkan lembaran yang harus diiringi dengan keberkahan dari doa seorang guru.
Doa Sang Guru untuk Kesuksesan Dunia dan Akhirat
Dalam sambutannya, beliau juga membagikan doa yang selalu ia lantunkan setiap kali selesai salat, yang khusus ditujukan bagi para mahasiswa dan murid-muridnya:
“Allahumma sahhil lahum umuura dzurriyyatina, wa ashabina, wa talamidzina, wa asatidzatina…”
(Ya Allah, mudahkanlah bagi mereka urusan anak keturunan kami, sahabat-sahabat kami, murid-murid kami, dan guru-guru kami).
Beliau memohon kepada Allah SWT agar setiap mahasiswa yang lulus dimudahkan jalan hidupnya. Tidak hanya sukses ketika berkarya di dunia, tetapi juga kelak ketika mempertanggungjawabkan segalanya di akhirat.
“Karena saya ingin semua mahasiswa saya juga dimudahkan hidupnya, baik ketika berkarya di dunia maupun nanti ketika berada di akhirat,” tutupnya dengan tulus.
Refleksi untuk Kita Semua
Kisah dari Bapak Prof. Fathul Wahid ini memberikan pelajaran berharga, khususnya bagi kita yang berkecimpung di dunia pendidikan. Rifa Institute meyakini bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi juga tentang transfer nilai dan ikatan batin (spiritual).
Keberhasilan seorang murid tidak pernah lepas dari ridha dan doa tulus gurunya. Mari kita sejenak merenung, sudahkah kita mendoakan anak-anak didik kita hari ini?
Bagaimana pendapat Anda tentang dedikasi luar biasa ini? Bagikan artikel ini untuk menyebarkan inspirasi kebaikan kepada para guru, dosen, dan pendidik di seluruh Indonesia!








Leave a Comment