Peta kekuatan riset global mulai berubah. Dalam daftar Nature Index 2026 Research Leaders, Zhejiang University berhasil menempati posisi pertama sebagai institusi akademik dengan kontribusi riset terbesar. Kampus asal China tersebut menggeser Harvard University, yang sebelumnya konsisten berada di posisi teratas sejak 2015.
Hal lain yang tidak kalah menarik, sembilan dari sepuluh kampus dalam daftar teratas berasal dari China. Harvard University menjadi satu-satunya universitas asal Amerika Serikat yang bertahan di kelompok elite tersebut.
Pemeringkatan ini menggunakan data publikasi sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2025. Namun, perlu dipahami bahwa Nature Index secara khusus mengukur kontribusi penelitian dalam publikasi ilmiah pilihan, bukan menilai seluruh aspek perguruan tinggi seperti kualitas pengajaran, fasilitas, reputasi lulusan, atau pengalaman mahasiswa.
Apa Itu Nature Index?
Nature Index merupakan basis data yang melacak kontribusi peneliti dan institusi terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal dan publikasi bereputasi. Pada 2026, basis data ini mencakup 178 publikasi di bidang sains alam, kesehatan, sains terapan, dan ilmu sosial. Publikasi tersebut dipilih berdasarkan reputasinya oleh para ilmuwan aktif, bukan hanya berdasarkan faktor dampak jurnal.
Ada dua indikator utama yang digunakan, yaitu Count dan Share.
Count menunjukkan jumlah artikel yang melibatkan setidaknya satu penulis dari suatu institusi. Satu artikel tetap dihitung satu, meskipun peneliti dari institusi tersebut hanya menjadi salah satu dari banyak penulis.
Sementara itu, Share menghitung porsi kontribusi institusi dalam sebuah artikel. Nilainya dibagi berdasarkan jumlah penulis dan afiliasi yang terlibat. Karena itu, Share memberikan gambaran yang lebih proporsional mengenai kontribusi riset sebuah kampus.
Daftar 10 Kampus dengan Riset Terbaik Dunia 2026
Berikut sepuluh institusi akademik teratas berdasarkan Share 2025 dalam Nature Index 2026 Research Leaders.
| Peringkat | Universitas | Negara | Share 2025 | Count 2025 | Perubahan Share |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Zhejiang University | China | 1.276,85 | 3.213 | Naik 22,7% |
| 2 | Harvard University | Amerika Serikat | 1.259,01 | 4.246 | Naik 0,6% |
| 3 | Tsinghua University | China | 1.213,59 | 4.062 | Naik 18,7% |
| 4 | Shanghai Jiao Tong University | China | 1.191,47 | 3.301 | Naik 25,6% |
| 5 | University of Science and Technology of China | China | 1.128,58 | 3.763 | Naik 20,1% |
| 6 | Peking University | China | 1.066,49 | 4.264 | Naik 16,8% |
| 7 | University of Chinese Academy of Sciences | China | 1.055,67 | 5.191 | Naik 14,8% |
| 8 | Nanjing University | China | 952,65 | 2.609 | Naik 16,5% |
| 9 | Sichuan University | China | 880,93 | 1.721 | Naik 33,3% |
| 10 | Fudan University | China | 872,50 | 2.662 | Naik 21,6% |
Zhejiang University Berhasil Menyalip Harvard
Zhejiang University mencatatkan Share sebesar 1.276,85, meningkat 22,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut membuatnya mampu melewati Harvard University yang memperoleh Share 1.259,01.
Harvard sebenarnya tetap mencatatkan kenaikan, tetapi pertumbuhannya hanya sekitar 0,6 persen. Angka tersebut jauh lebih lambat dibandingkan sebagian besar universitas China di dalam daftar.
Nature Index juga mencatat bahwa pertumbuhan jumlah artikel dalam basis datanya secara keseluruhan mencapai sekitar 10,8 persen dari 2024 ke 2025. Artinya, sebuah institusi bisa saja menghasilkan lebih banyak publikasi, tetapi kehilangan posisi apabila pertumbuhannya lebih lambat daripada perkembangan basis data dan institusi lainnya.
Sembilan Posisi Dikuasai Universitas China
Dominasi China terlihat sangat jelas. Selain Zhejiang University, terdapat Tsinghua University, Shanghai Jiao Tong University, University of Science and Technology of China, Peking University, University of Chinese Academy of Sciences, Nanjing University, Sichuan University, dan Fudan University.
Dengan demikian, China menguasai 90 persen posisi dalam sepuluh besar institusi akademik Nature Index 2026.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pusat produksi riset berkualitas tinggi semakin kuat di Asia, khususnya China. Pergeseran ini juga terlihat dari bertambahnya jumlah institusi China dalam kelompok 100 besar, dari 47 institusi pada data 2024 menjadi 51 institusi pada data 2025. (Nature)
Sichuan University Catat Pertumbuhan Tertinggi
Universitas dengan persentase pertumbuhan tertinggi dalam sepuluh besar adalah Sichuan University. Share kampus tersebut melonjak 33,3 persen, dari 660,68 pada 2024 menjadi 880,93 pada 2025.
Kenaikan besar juga terjadi pada Shanghai Jiao Tong University sebesar 25,6 persen, Zhejiang University sebesar 22,7 persen, dan Fudan University sebesar 21,6 persen.
Angka-angka ini memperlihatkan bahwa perubahan dalam peta riset global tidak hanya didorong oleh satu atau dua universitas. Sejumlah kampus China berkembang secara bersamaan dan mencatatkan pertumbuhan dua digit.
Jumlah Artikel Terbanyak Belum Tentu Berada di Peringkat Pertama
Hal menarik lainnya dapat dilihat pada indikator Count. University of Chinese Academy of Sciences memiliki Count tertinggi di antara sepuluh kampus tersebut, yaitu 5.191 artikel. Namun, kampus ini berada di posisi ketujuh berdasarkan Share.
Sebaliknya, Zhejiang University mempunyai Count lebih rendah, yakni 3.213 artikel, tetapi memperoleh Share tertinggi.
Perbedaan tersebut terjadi karena Count hanya mencatat keterlibatan institusi dalam sebuah artikel, sedangkan Share memperhitungkan besarnya porsi kontribusi penulis dari setiap institusi. Oleh karena itu, jumlah publikasi yang lebih banyak belum tentu menghasilkan Share yang lebih tinggi. (Nature)
Metodologi Nature Index Berubah pada 2026
Nature Index melakukan perubahan cukup besar dalam pemeringkatan 2026. Basis datanya menambahkan 17 jurnal dan satu konferensi di bidang sains terapan, serta 15 jurnal ilmu sosial.
Selain itu, pengelompokan bidang penelitian kini dilakukan berdasarkan isi setiap artikel, bukan semata-mata berdasarkan kategori jurnal tempat artikel tersebut diterbitkan. Data dari publikasi baru juga dimasukkan untuk 2024 dan 2025 agar perbandingan tahunan tetap lebih seimbang. (Nature)
Perubahan ini membuat cakupan Nature Index semakin luas. Meskipun begitu, hasil 2026 tetap perlu dibaca dengan memperhatikan perubahan metodologi dan pertumbuhan jumlah artikel dalam basis data.
Apa Pelajarannya bagi Kampus Indonesia?
Dominasi universitas China tidak harus dipandang sekadar sebagai persaingan peringkat. Daftar ini dapat menjadi bahan evaluasi mengenai cara perguruan tinggi membangun ekosistem penelitian.
Kampus-kampus Indonesia perlu memperkuat kelompok riset unggulan yang memiliki arah jangka panjang, bukan hanya mengejar jumlah publikasi tahunan. Dukungan pendanaan yang konsisten, fasilitas penelitian, kolaborasi lintas institusi, serta pembinaan peneliti muda juga perlu berjalan secara berkesinambungan.
Pada saat yang sama, peningkatan kuantitas publikasi tetap harus diikuti dengan penjagaan kualitas dan integritas akademik. Target akhirnya bukan semata-mata masuk ke dalam pemeringkatan, tetapi menghasilkan penelitian yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Nature Index Bukan Satu-satunya Ukuran Kualitas Kampus
Walaupun menarik untuk dijadikan acuan, Nature Index tidak boleh digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa sebuah universitas merupakan kampus terbaik secara keseluruhan.
Nature Index sendiri mengakui bahwa ukuran institusi, komposisi bidang penelitian, kualitas pendidikan, keluaran nonartikel, perangkat lunak, kekayaan intelektual, dan pengembangan peneliti muda merupakan faktor penting yang tidak sepenuhnya tercermin dalam Share ataupun Count. (Nature)
Karena itu, daftar ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran mengenai produktivitas dan kontribusi riset dalam publikasi ilmiah pilihan, bukan sebagai penilaian menyeluruh terhadap mutu sebuah perguruan tinggi.
Kesimpulan
Nature Index 2026 memperlihatkan perubahan besar dalam lanskap riset dunia. Zhejiang University berhasil menggeser Harvard dari posisi pertama, sementara universitas-universitas China menguasai sembilan dari sepuluh posisi teratas.
Hasil tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan riset global terus bergerak. Bagi perguruan tinggi Indonesia, perkembangan ini dapat menjadi pengingat bahwa membangun reputasi penelitian membutuhkan investasi jangka panjang, kolaborasi yang kuat, tata kelola yang baik, dan konsistensi dalam menghasilkan riset berkualitas.








Leave a Comment