“Di negara maju, tugas utama dosen adalah meneliti dan membuat inovasi baru.”
Pernyataan yang dalam materi tersebut dikaitkan dengan Prof. Stella Christie itu membuka kembali diskusi penting tentang peran dosen di Indonesia. Dosen tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi di ruang kelas. Mereka juga diharapkan menghasilkan penelitian, menulis artikel ilmiah, menjalankan pengabdian kepada masyarakat, membimbing mahasiswa, serta ikut mengembangkan institusi.
Masalahnya, berbagai tanggung jawab tersebut sering kali harus dijalankan secara bersamaan dengan beban administratif yang tidak sedikit.
Akibatnya, banyak dosen mempunyai gagasan penelitian yang potensial, tetapi kesulitan menyediakan waktu dan energi untuk mengembangkannya menjadi publikasi ilmiah yang berkualitas.
Persoalan ini bukan semata-mata tentang kemampuan individu. Perbedaan produktivitas akademik antara dosen di Indonesia dan dosen di berbagai negara maju juga berkaitan erat dengan dukungan ekosistem riset yang tersedia.
Dosen Indonesia Menjalankan Banyak Peran Sekaligus
Setelah menyelesaikan kegiatan mengajar, pekerjaan dosen belum tentu berakhir. Masih ada rapat, penyusunan laporan, pengisian Beban Kerja Dosen atau BKD, revisi tugas mahasiswa, kegiatan akreditasi, hingga beragam tugas kelembagaan lainnya.
Dalam waktu yang sama, dosen tetap dituntut untuk menghasilkan karya ilmiah.
Penelitian membutuhkan proses yang panjang. Seorang dosen harus menentukan topik, menyusun kajian literatur, merancang metodologi, mengumpulkan dan menganalisis data, menulis manuskrip, memilih jurnal, serta menanggapi masukan dari editor dan reviewer.
Setiap tahapan tersebut membutuhkan konsentrasi dan waktu khusus. Ketika agenda penelitian terus bersaing dengan pekerjaan administratif, proses penulisan artikel ilmiah pun menjadi lebih lambat.
Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak dosen sebenarnya memiliki data dan ide penelitian, tetapi belum berhasil mengubahnya menjadi manuskrip yang siap dipublikasikan.
Bagaimana Ekosistem Riset di Negara Maju Bekerja?
Tentu saja, sistem pendidikan tinggi di setiap negara tidak dapat digeneralisasi. Dosen di negara maju pun menghadapi target, evaluasi kinerja, tanggung jawab pengajaran, dan tekanan publikasi.
Namun, banyak institusi pendidikan tinggi di negara maju menempatkan kegiatan penelitian sebagai bagian penting dari strategi institusi. Waktu penelitian biasanya lebih terstruktur, sedangkan dukungan terhadap aktivitas riset juga relatif lebih kuat.
Dukungan tersebut dapat berupa akses terhadap pendanaan, basis data akademik, perangkat penelitian, laboratorium, asisten riset, layanan bahasa, statistikawan, serta tim administrasi yang membantu mengelola berbagai kebutuhan teknis.
Kolaborasi antardosen dan antaruniversitas juga cenderung dibangun secara sistematis. Dengan dukungan tersebut, dosen dapat lebih fokus menghasilkan penelitian yang berdampak dan memiliki reputasi internasional.
Jadi, perbedaan yang terlihat bukan selalu karena dosen di satu negara lebih cerdas atau lebih kompeten dibandingkan dosen di negara lain. Sering kali, perbedaannya terletak pada sistem yang mendukung proses kerja akademik.
Kompetensi Dosen Bukan Persoalan Utamanya
Menjadi dosen di mana pun tetap membutuhkan kompetensi, integritas, ketekunan, dan tanggung jawab yang tinggi.
Dosen Indonesia juga mempunyai kapasitas untuk menghasilkan penelitian berkualitas. Hal itu dapat dilihat dari semakin banyaknya akademisi Indonesia yang terlibat dalam kolaborasi internasional, memperoleh hibah penelitian, mempresentasikan hasil riset dalam konferensi, dan memublikasikan artikel di jurnal bereputasi.
Namun, kemampuan tersebut tidak akan berkembang secara optimal apabila dosen harus bekerja dalam ekosistem yang kurang mendukung.
Seorang peneliti mungkin mempunyai ide yang kuat, tetapi kesulitan memperoleh pendanaan. Peneliti lain mungkin sudah memiliki data, tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk menyusun manuskrip. Ada pula yang telah menyelesaikan artikel, tetapi belum memahami cara memilih jurnal atau menanggapi komentar reviewer.
Hambatan-hambatan ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas ilmiah tidak cukup dilakukan dengan menambah target publikasi. Institusi juga perlu memperkuat sistem pendukung yang memungkinkan target tersebut tercapai secara realistis.
Mengapa Publikasi Ilmiah Sering Membutuhkan Waktu Lama?
Publikasi ilmiah bukan sekadar memindahkan hasil penelitian ke dalam dokumen. Sebuah manuskrip harus memiliki argumentasi yang jelas, menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, serta menunjukkan kontribusi terhadap bidang ilmu tertentu.
Setelah manuskrip dikirimkan ke jurnal, penulis masih harus melalui proses editorial dan peer review. Artikel dapat diminta untuk direvisi satu kali, dua kali, atau bahkan lebih. Dalam beberapa kasus, manuskrip ditolak dan harus disesuaikan kembali untuk jurnal lain.
Proses tersebut merupakan bagian normal dari komunikasi ilmiah. Akan tetapi, bagi dosen yang sudah dibebani berbagai tugas tridarma dan administrasi, setiap putaran revisi dapat menjadi tantangan tambahan.
Tidak jarang sebuah artikel tertunda bukan karena kualitas penelitiannya buruk, tetapi karena penulis belum memiliki waktu untuk menindaklanjuti revisi secara konsisten.
Pendampingan Publikasi sebagai Bagian dari Solusi
Salah satu bentuk dukungan yang dapat membantu dosen bekerja lebih efektif adalah pendampingan publikasi ilmiah.
Pendampingan bukan berarti mengambil alih tanggung jawab intelektual peneliti. Seluruh gagasan, data, analisis, dan kesimpulan harus tetap berasal dari penulis. Pendampingan berfungsi membantu peneliti memahami proses publikasi dan menyusun strategi yang lebih terarah.
Pendamping dapat membantu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan manuskrip, memperbaiki struktur tulisan, memastikan konsistensi antara tujuan dan metode, menyeleksi jurnal yang sesuai, serta menyusun respons terhadap reviewer.
Dukungan semacam ini dapat mengurangi pekerjaan teknis yang sering membuat proses publikasi terasa rumit. Dengan demikian, dosen dapat lebih fokus pada substansi penelitian tanpa mengabaikan tanggung jawab tridarma lainnya.
Pendampingan tetap harus dilakukan secara etis. Praktik seperti fabrikasi data, manipulasi hasil penelitian, penggunaan jasa penulis bayangan, atau pencantuman nama yang tidak berkontribusi harus dihindari. Tujuan pendampingan adalah meningkatkan kapasitas penulis, bukan menggantikan peran penulis.
Membangun Ekosistem Riset yang Lebih Mendukung
Peningkatan kualitas publikasi ilmiah membutuhkan perubahan yang lebih luas daripada sekadar memberikan pelatihan menulis.
Perguruan tinggi perlu menyediakan alokasi waktu penelitian yang lebih jelas, mengurangi pekerjaan administratif yang tidak esensial, memperluas akses terhadap literatur ilmiah, serta membangun layanan konsultasi metodologi dan statistik.
Kolaborasi juga perlu diperkuat. Kelompok riset yang aktif dapat menjadi ruang bagi dosen untuk bertukar gagasan, membahas perkembangan penelitian, dan saling memberikan umpan balik terhadap manuskrip.
Selain itu, penghargaan terhadap kinerja dosen sebaiknya tidak hanya didasarkan pada jumlah artikel. Kualitas, dampak penelitian, kontribusi terhadap masyarakat, keterlibatan mahasiswa, dan keberlanjutan agenda riset juga perlu diperhitungkan.
Target publikasi memang penting, tetapi target tersebut harus disertai dengan fasilitas dan dukungan yang memadai.
Dari Tekanan Publikasi Menuju Budaya Riset
Dosen tidak seharusnya diposisikan hanya sebagai pengajar atau pelaksana administrasi. Mereka merupakan bagian penting dari proses penciptaan pengetahuan dan inovasi.
Ketika dosen diberi ruang untuk meneliti, akses terhadap sumber daya, kesempatan berkolaborasi, dan bantuan dalam proses publikasi, produktivitas ilmiah dapat tumbuh secara lebih sehat.
Karena itu, diskusi mengenai perbedaan dosen Indonesia dan dosen di negara maju sebaiknya tidak berhenti pada perbandingan individu. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sistem pendidikan tinggi kita telah memberikan dukungan yang cukup agar dosen dapat menjalankan perannya sebagai peneliti?
Dosen Indonesia tidak kekurangan ide maupun kompetensi. Banyak di antara mereka hanya membutuhkan ekosistem yang memungkinkan gagasan tersebut berkembang menjadi penelitian dan inovasi yang bermanfaat.
Penutup
Mendorong dosen untuk menghasilkan lebih banyak publikasi harus berjalan seiring dengan upaya memperbaiki ekosistem riset.
Pengurangan beban administratif, penyediaan waktu penelitian, akses pendanaan, penguatan kolaborasi, serta pendampingan publikasi yang etis dapat menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah Indonesia.
Pada akhirnya, kemajuan riset tidak hanya bergantung pada seberapa keras seorang dosen bekerja. Kemajuan juga ditentukan oleh seberapa baik institusi dan ekosistem akademik mendukung pekerjaan tersebut.
Rifa Institute hadir untuk mendampingi akademisi dalam mengembangkan manuskrip dan memahami proses publikasi ilmiah secara lebih terarah, sistematis, dan beretika.








Leave a Comment