Amerika Serikat masih menjadi pusat kekuatan riset dunia. Namun, dominasinya kini tidak lagi berdiri tanpa penantang.
Data satu dekade dalam Highly Cited Researchers: Key Trends 2015–2025 yang dirilis Clarivate menunjukkan pertumbuhan sangat cepat di sejumlah negara dan wilayah Asia. Tiongkok Daratan, Hong Kong SAR, dan Singapura menjadi contoh paling menonjol dari perubahan tersebut.
Temuan ini tidak sekadar menggambarkan siapa yang memiliki peneliti paling banyak. Data tersebut juga memperlihatkan perubahan dalam bidang keilmuan, efisiensi ekosistem penelitian, serta pola persaingan global dalam menghasilkan pengetahuan yang berpengaruh.
Apa Itu Highly Cited Researchers?
Highly Cited Researchers atau HCR merupakan program Clarivate untuk mengidentifikasi ilmuwan dan peneliti ilmu sosial yang dinilai memiliki pengaruh luas dan signifikan dalam bidangnya.
Peneliti yang terpilih umumnya telah menghasilkan sejumlah artikel yang masuk dalam kelompok 1% publikasi paling banyak disitasi, berdasarkan bidang ilmu dan tahun terbitnya di Web of Science Core Collection selama periode sebelas tahun. Akan tetapi, jumlah sitasi bukan satu-satunya dasar penilaian. Clarivate juga menggunakan indikator kuantitatif lain, analisis kualitatif, serta pertimbangan para ahli. ([Clarivate][1])
Perlu dipahami bahwa data yang ditampilkan berbentuk awards atau penghargaan, bukan selalu jumlah individu. Seorang peneliti dapat memperoleh pengakuan dalam lebih dari satu kategori.
Pada daftar 2025, misalnya, Clarivate mencatat 6.868 individu dengan total 7.131 penghargaan yang berasal dari lebih dari 1.300 institusi di 60 negara dan wilayah. ([Clarivate][2])
Amerika Serikat Masih Memimpin
Jika data 2015–2025 digabungkan, Amerika Serikat masih menguasai sekitar 40,8% penghargaan HCR dunia. Angka tersebut menegaskan besarnya kapasitas sistem riset Amerika, mulai dari pendanaan, kualitas universitas, laboratorium, hingga kemampuannya menarik peneliti internasional.
Dalam daftar khusus tahun 2025, Amerika Serikat memperoleh 2.670 penghargaan atau 37,4% dari jumlah global. Tiongkok Daratan berada di posisi kedua dengan 1.406 penghargaan atau 19,7%, sedangkan Inggris menempati urutan ketiga dengan 570 penghargaan atau 8%. ([Clarivate][2])
Dominasi Amerika Serikat memang masih kuat. Namun, perbandingan antara data agregat satu dekade dan data tahun 2025 memperlihatkan bahwa jarak dengan Tiongkok semakin mengecil.
Perubahan yang lebih besar bahkan terlihat ketika data dianalisis berdasarkan bidang ilmu.
Tiongkok Mulai Memimpin dalam Empat Bidang Strategis
Dalam data 2015–2025, Tiongkok Daratan telah memimpin jumlah penghargaan HCR pada empat bidang, yaitu:
- Kimia
- Ilmu Komputer
- Teknik
- Ilmu Material
Temuan ini menandai pergeseran penting. Pada analisis periode 2014–2024 sebelumnya, Amerika Serikat masih memimpin hampir semua bidang, kecuali Teknik dan Ilmu Material. Dalam pembaruan terbaru, Tiongkok juga mengambil posisi teratas pada Kimia dan Ilmu Komputer. ([Clarivate][3])
Keempat bidang tersebut memiliki peran strategis dalam perkembangan teknologi modern. Ilmu material berhubungan dengan pengembangan semikonduktor, baterai, energi, dan teknologi manufaktur. Ilmu komputer menjadi fondasi kecerdasan buatan serta transformasi digital. Sementara itu, teknik dan kimia mendukung inovasi di berbagai sektor industri.
Dengan demikian, kenaikan Tiongkok tidak hanya terjadi pada jumlah penelitian, tetapi juga pada bidang-bidang yang menentukan arah persaingan teknologi global.
Pertumbuhan Tiongkok Berlangsung Sangat Cepat
Di antara negara dan wilayah utama, Tiongkok mencatat pertumbuhan paling mencolok.
Sepanjang 2015–2025, jumlah penghargaan HCR yang berafiliasi dengan Tiongkok Daratan meningkat sekitar 12 kali lipat. Hong Kong SAR mencatat peningkatan tujuh kali lipat, sedangkan Singapura tumbuh empat kali lipat.
Sejumlah negara lain, termasuk Israel, Austria, Korea Selatan, Australia, Swedia, Belgia, Kanada, dan Norwegia, juga berhasil meningkatkan jumlah penghargaan mereka sekitar tiga kali lipat. Perhitungan tersebut tidak memasukkan negara atau wilayah dengan jumlah HCR kurang dari 20 pada 2025. ([Clarivate][3])
Pertumbuhan Tiongkok juga terlihat stabil selama satu dekade, bukan hanya berupa lonjakan dalam satu atau dua tahun. Hal ini mengindikasikan adanya pembangunan kapasitas penelitian secara jangka panjang.
Investasi laboratorium, pengembangan perguruan tinggi, dukungan terhadap publikasi internasional, dan kemampuan menarik kembali ilmuwan diaspora kemungkinan menjadi bagian dari faktor yang mendukung pertumbuhan tersebut. Meski demikian, data HCR sendiri tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab-akibat di antara faktor-faktor tersebut.
Negara Kecil Bisa Lebih Efisien
Jumlah penghargaan yang besar tidak selalu berarti suatu negara memiliki sistem penelitian paling efisien.
Clarivate juga membandingkan jumlah penghargaan HCR dengan populasi corresponding author atau penulis korespondensi di setiap negara dan wilayah. Analisis ini membantu melihat seberapa padat suatu ekosistem menghasilkan penelitian yang berpengaruh dibandingkan dengan ukuran komunitas penelitinya.
Dalam indikator tersebut, Hong Kong SAR dan Singapura tampil sangat kuat. Berdasarkan visualisasi Clarivate, Hong Kong memperoleh sekitar 9,4 penghargaan per 10.000 corresponding author, sedangkan Singapura berada di angka 5,9. Keduanya melampaui Amerika Serikat yang berada di kisaran 5,0.
Swiss juga menunjukkan perkembangan signifikan. Negara tersebut naik dari posisi kedelapan menjadi posisi kelima dibandingkan analisis periode sebelumnya. Denmark masuk ke dalam sepuluh besar dengan bergerak dari posisi ke-11 ke posisi kesembilan. ([Clarivate][3])
Temuan ini memperlihatkan bahwa ukuran negara atau jumlah peneliti bukan satu-satunya penentu. Ekosistem yang terkonsentrasi, memiliki fasilitas kuat, terhubung dengan jaringan internasional, dan mendukung spesialisasi tertentu dapat menghasilkan pengaruh ilmiah yang besar.
Kekuatan Riset Dunia Semakin Multipolar
Data Clarivate memperlihatkan tiga kecenderungan utama.
Pertama, Amerika Serikat masih memiliki keunggulan besar secara keseluruhan. Infrastruktur, jaringan universitas, pendanaan, dan daya tarik internasionalnya belum mudah disaingi.
Kedua, pertumbuhan Tiongkok berlangsung sangat pesat dan konsisten. Negara tersebut bukan hanya menambah jumlah peneliti berpengaruh, tetapi juga mulai memimpin bidang-bidang strategis.
Ketiga, pusat riset berukuran kecil seperti Hong Kong, Singapura, Swiss, dan Denmark membuktikan bahwa efisiensi dan konsentrasi keunggulan dapat menghasilkan pengaruh besar. Kekuatan riset tidak hanya ditentukan oleh banyaknya peneliti, tetapi juga oleh kualitas lingkungan tempat mereka bekerja.
Pada saat yang sama, konsentrasi penelitian global masih sangat tinggi. Pada 2025, sekitar 86% penghargaan HCR berasal dari sepuluh negara dan wilayah teratas, sedangkan lima besar menguasai sekitar 75% penghargaan. ([Clarivate][2])
Artinya, pergeseran menuju dunia yang lebih multipolar memang berlangsung, tetapi belum menghasilkan pemerataan kapasitas penelitian secara global.
Apa Pelajarannya bagi Indonesia?
Data tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi pengembangan riset Indonesia.
Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan jumlah artikel ilmiah. Strategi penelitian perlu diarahkan pada peningkatan kualitas, relevansi, integritas, dan pengaruh jangka panjang.
1. Membangun bidang riset prioritas
Tidak semua negara harus unggul pada seluruh cabang ilmu. Tiongkok memperkuat posisinya melalui bidang-bidang strategis, sedangkan negara kecil seperti Swiss dan Singapura berhasil membangun ekosistem yang terkonsentrasi.
Indonesia dapat menentukan bidang prioritas yang sesuai dengan kebutuhan dan keunggulan nasional, misalnya biodiversitas, energi terbarukan, kesehatan tropis, kemaritiman, pangan, kebencanaan, ekonomi digital, dan kajian sosial masyarakat majemuk.
2. Memperkuat kolaborasi internasional yang setara
Kolaborasi internasional dapat membuka akses terhadap fasilitas, metodologi, data, dan jaringan publikasi global. Namun, kolaborasi tidak seharusnya menempatkan peneliti Indonesia hanya sebagai pengumpul data.
Peneliti dan institusi Indonesia perlu terlibat sejak perumusan pertanyaan penelitian, penyusunan metodologi, analisis, hingga penulisan dan penyebarluasan hasil.
3. Mengutamakan dampak, bukan sekadar jumlah artikel
Artikel yang banyak belum tentu memiliki pengaruh yang luas. Perguruan tinggi perlu memberi penghargaan lebih besar terhadap kualitas metodologi, keterbukaan data, kebermanfaatan penelitian, kontribusi terhadap kebijakan, serta pengaruh ilmiah jangka panjang.
Target publikasi tetap penting, tetapi tidak boleh mendorong praktik yang mengorbankan kualitas dan etika.
4. Menjaga integritas penelitian
Clarivate terus memperketat proses seleksi HCR karena berkembangnya manipulasi publikasi dan sitasi. Pada 2024, sekitar 2.000 kandidat atau 23% dari daftar awal dikeluarkan melalui proses penyaringan kualitatif. ([Clarivate][4])
Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa mengejar indikator tanpa menjaga integritas dapat merusak reputasi peneliti dan institusi. Perguruan tinggi perlu memperkuat pendidikan etika penelitian, pengelolaan data, proses authorship, pemeriksaan konflik kepentingan, dan pemilihan jurnal yang kredibel.
HCR Bukan Satu-Satunya Ukuran Kualitas Riset
Meskipun bermanfaat untuk membaca pengaruh ilmiah, daftar Highly Cited Researchers tetap perlu digunakan secara hati-hati.
Jumlah sitasi dapat dipengaruhi oleh ukuran bidang ilmu, budaya publikasi, bahasa, pola kolaborasi, serta perubahan metodologi. Kategori Cross-Field baru diterapkan sejak 2018. Kategori Matematika juga tidak memiliki penghargaan pada 2023 dan 2024 karena Clarivate menilai diperlukan pendekatan berbeda dalam menghadapi pola publikasi dan manipulasi sitasi pada bidang tersebut. ([Clarivate][4])
Karena itu, HCR sebaiknya tidak diperlakukan sebagai satu-satunya ukuran keunggulan ilmiah. Evaluasi penelitian tetap memerlukan penilaian terhadap metodologi, orisinalitas, integritas, manfaat sosial, dan kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Kesimpulan
Peta kekuatan riset dunia sedang berubah.
Amerika Serikat tetap memimpin, tetapi pertumbuhan Tiongkok memperlihatkan bahwa dominasi tunggal mulai bergeser. Pada saat yang sama, Hong Kong, Singapura, Swiss, dan Denmark menunjukkan bahwa negara atau wilayah berukuran kecil dapat memiliki pengaruh besar ketika didukung oleh ekosistem penelitian yang efisien.
Bagi Indonesia, pesan utamanya bukan sekadar mengejar posisi dalam daftar. Tantangan yang lebih penting adalah membangun lingkungan penelitian yang konsisten, berintegritas, terhubung secara internasional, dan mampu menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermanfaat.
Dalam persaingan ilmu pengetahuan global, jumlah publikasi adalah awal. Kualitas, pengaruh, dan kepercayaan terhadap hasil penelitianlah yang menentukan posisi sebuah negara dalam jangka panjang.








Leave a Comment